Sunday, October 14, 2018

Makalah Perkembangan Bahasa (Bicara)

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dengan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan anak antara lain, menimbulkan perubahan, berkolerasi dengan pertumbuhan, memiliki tahap yang berurutan dan mempunyai pola yang tetap.
Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Dan jika diibaratkan seperti pondasi dalam sebuah bangunan, jika pondasinya kokoh maka bangunannya pun akan kuat dan tahan lama, dan sebaliknya jika pondasinya rapuh maka bangunannya akan mudah roboh atau rusak.
Sebagian besar ketidakberdayaan bayi yang baru lahir berasal dari ketidakmampuan mereka untuk menyatakan kebutuhan dan keinginan mereka dalam bentuk yang dipahami orang lain dan ketidakmampuan mereka memahami kata dan isyarat yang digunakan orang lain.
Banyak orang yang mempertukarkan penggunaan istilah “bicara” (speech) dengan “bahasa” (language), meskipun kedua istilah tersebut sebenarnya tidak sama. Bahasa mencakup setiap sarana komunikasi dengan menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada orang lain. Bicara adalah bentuk bahasa yang mnggunakan artikulasi atau kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan maksud.
Perkembangan bahasa pada anak sangatlah bertahap yang di bagi dalam beberapa bagian, sebagaimana halnya dalam bidang perkembangan lainnya tahun-tahun awal kehidupan sangat penting bagi perkembangan bicara anak. Jadi tidak mengejutkan bahwa bahasa sangat krusial bagi sebagian besar aktifitas manusia dan untuk itulah anak memerlukan bahasa untuk berkomunikasi.

B.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat ditarik berdasarkan latar belakang yang ada yaitu:
1.    Apa saja tahap-tahap perkembangan bahasa anak?
2.    Faktor-faktor apa yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak?
3.    Apa saja hambatan dan kesulitan dalam perkembangan bahasa anak?
4.    Apa saja teori-teori perkembangan bahasa?

C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan bahasa pada anak;
2.    Untuk mempengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak;
3.    Untuk mengetahui hambatan dan kesulitan dalam perkembangan bahasa anak;
4.    Untuk mengetahui teori-teori perkembangan bahasa anak.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Tahap-Tahap Perkembangan Bahasa Anak
Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak secara Umum:
1.    Reflexsive Vocalization
Jadi, bayi menangis bukan karena ia memang ingin menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari. Ostwald dan Peltzman menelaskan bahwa “menangis merupakan salah satu cara pertama yang dapat dilkukan bayi untuk berkomunikasi dengan dunia luas”. Melalui tangisan bayi memberitahukan kebutuhannya kepada seseorang untuk menghilangkan rasa: lapar, pedih, lelah, dan keadaan tubuh yang tidak menyenangkan lainnya dan untuk memenuhi keinginan untuk diperhatikan. Untuk membuat komunikasi tersebut lebih mudah dipahami orang lain, alam menyediakan perbedaann kualitas suara tangis sedini tiga atau empat minggu setelah dilahirkan. Sebagai contoh, rasa pedih diungkapkan dengan tangisan melengking, keras diselingi dengan rintihan dan rengekan. Sedangkan tangis karena lapar terdengar keras dan diselingi dengan gerakan menghisap. Meskipun gerakan bayi dapat membantu menafsirkan arti tangis, arti tersebut tidak selalu ditafsirkan dengan betul. Akibatnya nilai komunikatifnya berkurang. Perbedaan individual dalam jumlah tangisan lebih besar ketimbang perbedaan kualitas suara tangis. Banyak sedikitnya tangisan bayi berbeda-beda menurut cepat dan memadainya pemenuhan kebutuhan dan keinginan mereka.
2.    Babling
Pada usia lebih dari 3 minggu, ketika bayi merasa lapar atau tidak nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan sebelumnya, tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan keinginan atau perasaan si bayi.
3.    Lalling
Di usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar suara-suara namun belum jelas. Bayi mulai dapat mendengar pada usia 2 s/d 6 bulan sehingga ia mulai dapat mengucapkan kata dengan suku kata yang diulang-ulang, seperti: “ba….ba…, ma..ma….”.
Karena meningkatnya kemampuan mengendalikan arus udara yang melewati pita suara, bayi dapat mengucapkan bunyi seperti yang diinginkan. Oleh karena itu, celoteh adalah bentuk senam suara, yang timbul secara spontan.
Celoteh mengandung nilai jangka panjang yang besar karena tiga alasan. Pertama, berceloteh adalah praktik verbal yang meletakkan dasar bagi perkembangan terlatih yang dikendaki dalam berbicara. Kedua, celoteh mendorong keinginan berkomunikasi dengan orang lain. Ketiga, berceloteh membantu bayi merasakan bahwa ia bagian dari kelompok sosial.
4.    Echolalia
Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10 bulan ia mulai meniru suara-suara yang di dengar dari lingkungannya, serta ia juga akan menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta sesuatu.
5.    True Speech
Bayi mulai dapat berbicara dengan benar. Saat itu usianya sekitar 18 bulan atau biasa disebut batita. Namun, pengucapannya belum sempurna seperti orang dewasa.
  
Menurut Piaget dan Vygotsky, tahap-tahap perkembangan bahasa anak adalah sebagai berikut:
1.    Tahap Pralinguistik (0-12 bulan)
Pada tahun pertama, bayi pada dasarnya pralinguistik. Mereka membuat suara-suara dengan organ-organ vokalnya, seperti tangisan. Menangis cenderung mendominasi bulan pertama, dan orang tua sedikit demi sedikit belajar membedakan beragam jenis tangisan (Gustaf & Harris, 1990).
Pada umur 1 bulan, bayi mampu membedakan fonem-fonem (seperti “ba” dan “pa”) dan bunyi-bunyi lain, meskipun secara fisik mapun akustik mungkin nyaris identik. Bayi yang berusia 4 – 7 bulan biasanya sudah mulai mengahasilkan banyak suara baru yang menyebabkan masa ini disebut masa ekspansi (Dworetzky, 1990). Suara-suara baru itu meliputi: bisikan, menggeram, dan memekik. Setelah memasuki usia 7–12 bulan, ocehan bayi meningkat pesat dikenal dengan masa connical.
2.    Tahap Satu Kata (12-18 bulan)
Biasanya, seorang anak menghasilkan kata pertamanya pada sekitar umur satu tahun, meskipun ada variabilitas yang cukup besar dalam hal ini (Rice, 1989). Kata-kata pertama (articulate words) mereka seringkali tercipta dengan cara yang paling mudah secara fonologis (sangat mirip dengan ocehan mereka, yang yang tidak mirip dengan “kata-kata orang dewasa”.
Tahap satu kata juga ditandai dengan holophrases. Dalam holophrastic speech, sepath kata tunggal (misalnya “susu”) digunakan untuk menyampaikan pesan yang jauh lebih kompleks (misalnya, “aku mau susu” atau “aku menumpahkan susu”). Holopharases disertai dengan gerak-gerik dan nada suara untuk menambahkan makna yang lengkap pada sebuah kata individual. Mereka mempresentasikan “makna dua kata” (kata plus gerak-gerik) sebelum dua patah kata benar-benar digunakan bersama-sama di dalam sebuah pembicaraan (Bates et al., 1987). Akan tetapi mereka bergantung kepada si penerima holophrase, yang membuat holophrase yang benar.
3.    Tahap Kalimat Dua Kata
Selain perkembangan perbendaharaan kata yang berkelanjutan, pemahaman tentang tata bahasa pun terus tumbuh. Brown (1973) membagi tahap ini menjadi tata bahasa tahap 1 dan tahap 2.
a.    Tata bahasa tahap 1 (18-30 bulan)
Di sini pembicaraan anak pada dasarnya telegrafik (Brown, 1973): hanya kata –kata  yang menyampaikan informasi gramatikal (kontentif) yang digunakan. Contoh, anak-anak sering mengatakan “there cow” untuk menyampaikan pesan yang mendasarinya “there is a cow”.
b.    Tata bahasa tahap 2 (sejak umur sekitar 30 bulan)
Tahap ini berlangsung samapai sekitar umur empat atau lima tahun. Perbendaharaan kata anak bertambah pesat, dan kalimat-kalimatnya menjadi lebih panjang dan lebih kompleks. Mean length utterance (MLU) atau rata-rata panjang kalimat adalah jumlah kata-kata di dalam sebuah kalimat dibagi total jumlah kalimat yang dihasilkan. Jadi, seorang anak yang menghasilkan 100 kalimat dengan 300 kata, maka memiliki MLU= 3,0. Contoh perkembangan bahasa pada tahap ini yaitu, dari “daddy hat” mungkin menjadi “daddy wear hat” dan akhirnya “daddy is wearing a hat”. Kalimat-kalimat juga menjadi lebih panjang karena kata penghubung (seperti “dan” dan “sehingga”). Tata bahasa tahap 2 benar-benar dimulai dengan penggunaan kata-kata yang murni gramatikal untuk pertama kalinya. 
Menurut Marat (1983, dalam Hartati, 2011), ada beberapa keterampilan mencolok yang dikuasai anak pada tahap ini:
1)   Pada akhir periode ini, secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya kaidah-kaidah tata bahasa yang utama telah dikuasai.
2)   Perbendaharaan kata berkembang, beberapa pengertian abstrak, seperti pengertian waktu, ruang dan jumlah yang diinginkan mulai muncul.
3)   Mereka mulai dapat membedakan kata-kata kerja (misalnya: makan, minum, pergi, dan lain-lain) dan kata-kata benda (gelas, baju, nasi, buku, dan lain-lain.) dan sudah dapat menggunakan kata depan (di, ke, dari), kata ganti (aku, kamu, dia) dan kata kerja bantu (tidak, mau, bukan).
4)   Fungs bahasa untuk berkomunikasi mulai betul-betul berfungsi, anak sudah mulai mengadakan konversasi dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang dewasa.
5)   Persepsi anak dan pengalamanya tentang dunia luar mulai ingin dibaginya dnegan orang lain, dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, member tahu, dan lain-lain.
6)   Tumbuhnya kreativitas anak dalam pembentukan kata-kata baru.
4.    Tahap Tata Bahasa Pra-Dewasa
Tahap perkembangan pada tahap ii mulai terjadi pada anak yang sudah berumur 4-5 tahun. Pada tahap ini, anak sudah mulai menerapkan struktur tata bahasa dan kalimat-kalimat yang agak lebih rumit. Misalnya kalimat majemuk sederhana seperti “mama beli sayur sama krupuk”. Kemampuan menghasilkan kalimat sudah mulai beragam ada kalimat pertanyaan, kalimat perintah dan kalimat pernyataan/kalimat berita.
Pada tahap ini anak sudah tidak mengalami kesulitan dalam mengucapkan bunyi-bunyi. Walaupun masih ada yang kesulitan dalam mengucapkan bunyi tertentu, misalnya, /r/. Menurut Clark, pada tahap ini, anak masih kesulitan mengungkapkan pikirannya ke dalam kata-kata yang bermakna. Hal ini karena anak masih memiliki keterbatasan, seperti: penguasaan struktur bahasa, kosakata dna imbuhan.
5.    Tahap Kompetensi Penuh
Sekitar usia 5-7 tahun, anak-anak mulai memasuki tahap yang disebut tahap kompetensi penuh. Sejak usia 5 tahun pada umumnya anak-anak yang perkembangannya normal telah menguasai elemen-elemen sintaksis bahasa ibunya dan telah memiliki kompetensi (pemahaman dan produktivitas bahasa) secara memadai.
Berikutnya, anak memasuki sekolah dasar, selama periode ini, anak-anak dihadapkan pada tugas utama mempelajari bahasa tulis. Kemampuan bahasa mereka bekembang dengan adanya pemerolehan bahasa tulis (written language acquisition).
Pada masa perkembangan selanjutnya, yakni pada usia remaja, terjadi perkembangan bahasa yang penting. Periode ini menurut Gielson merupakan umur yang sensitive untuk belajar bahasa. Ramaja menggunakan bahasa yang khas dalam berbahasa, sebagai bagian dari terbentuknya identitas diri.

Perkembangan bahasa anak dilihat dari pemerolehan bahasa menurut komponen-komponennya, sebagai berikut:
1.    Perkembangan Pragmatik
Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak dini, pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya karena lapar, popok basah. Dari sini bayi akan belajar bahwa ia akan mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu buatnya.
a.    Pada usia 3 minggu, bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar, misalnya wajah seseorang, tatapan mata, suara, dan gelitikan. Ini disebut senyum sosial.
b.    Pada usia 12 minggu, mulai dengan pola dialog sederhana berupa suara balasan bila ibunya memberi tanggapan.
c.    Pada usia 2 bulan, bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi ibunya.
d.   Pada usia 5 bulan, bayi mulai meniru gerak gerik orang, mempelajari bentuk ekspresi wajah.
e.    Pada usia 6 bulan, bayi mulai tertarik dengan benda-benda sehinga komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi, dan benda-benda.
f.     Pada usia 7-12 bulan, anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai dengan bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai sekitar 18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan penggunaan satu suku kata.
g.    Pada usia 2 tahun,  anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan mampu merangkai kalimat dua kata, bereaksi terhadap pasangan bicaranya dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah topik dan mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar. Perilaku ibu yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik baru.
2.    Perkembangan Semantik
Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan semantik, maka pada umur 6-9 bulan anak telah mengenal orang atau benda yang berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep berkembang pesat pada masa prasekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata lebih banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan terjadi penambahan lima kata perhari di usia 1,5 sampai 6 tahun. Pemahaman kata bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi strategi pemetaan yang cepat diusia ini sehingga anak dapat menghubungkan suatu kata dengan rujukannya.
3.    Perkembangan Sintaksis
Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18 bulan walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia 1 tahun bahkan lebih dari 2 tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata, berbeda dengan masa “kalimat satu kata” sebelumnya yang disebut masa holofrastis. Kalimat satu kata bisa ditafsirkn dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya. Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkin kita menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut. Peralihan dari kalimat satu kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap. Pada waktu kalimat pertama terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi kalimat, rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua kata memberi makna lebih dari satu maka anak membedakannya dengan menggunakan pola intonasi yang berbeda. Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat pesat pada waktu anak menjalani usia 2 tahun dan mencapai puncaknya pada akhir usia 2 tahun.
4.    Perkembangan Morfologi
Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan panjang ucapan rata-rata yang diukur dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan, mean length of utterance (MLU) adalah alat prediksi kompleksitas bahasa pada anak yang berbahasa Inggris. MLU sangat erat berhubungan dengan usia dan merupakan prediktor yang baik untuk perkembangan bahasa. Dari usia 18 bulan sampai 5 tahun MLU meningkat kira-kira 1,2 morfem per tahun. Penguasaan morfem mulai terjadi saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun. Beberapa sumber yang membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan morfologi semuanya merupakan Bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia.
5.    Perkembangan Fonologi
Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari dekode bahasa. Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia prasekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem fonologi tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk membedakan makna.

B.  Faktor-faktor Perkembangan Bahasa Anak
Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
1.    Kognisi (Proses memperoleh pengetahuan). Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang.
2.    Pola komunikasi dalam keluarga. Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya.
3.    Jumlah anak atau jumlah keluarga. Suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.
4.    Posisi urutan kelahiran. Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.
5.    Kedwibahasaan (Pemakaian dua bahasa). Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia.
Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga.

C.  Hambatan Perkembangan Bahasa Anak
Apabila anak tidak diberikan rangsangan (stimulasi) didorong untuk berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa/kosa kata yang baik dan benar.
Kekurangan dorongan tersebut merupakan penyebab serius keterlambatan berbicara anak. Anak-anayk dari golongan yang lebih atau menengah yang orang tuanya ingin sekali menyuruh mereka (anak) belajar berbicara lebih awal (cepat) dan lebih baik, sangat kurang kemungkinannya mengalami keterlambatan berbicara pada anak.Sedangkan anak yang berasal dari golongan yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan tersebut bagi mereka, apakah kekurangan waktu/karena mereka tidak menyadari betapa pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut.
Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak yaitu:
1.    Kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata,
2.    Lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara,
3.    Sering kali berbicara yang tidak teratur,
4.    Tidak konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru.

Perkembangan berbicara merupakan suatu proses yang sangat sulit dan rumit. Terdapat beberapa kendala yang sering kali dialami oleh anak, antara lain:
1.    Anak cengeng.
Anak yang sering kali menangis dengan berlebihan dapat menimbulkan gangguan pada fisik maupun psikis anak. Dari segi fisik, gangguan tersebut dapat berupa kurangnya energi sehingga secara otomatis dapat menyebabkan kondisi anak tidak fit. Sedangkan gangguan psikis yang muncul adalah perasaan ditolak atau tidak dicintai oleh orang tuanya, atau anggota kcluarga lain. Sedangkan reaksi sosial terhadap tangisan anak biasanya bernada negatif. Oleh karena itu peranan orang tua sangat penting untuk menanggulangi hal tersebut, salah satu cara untuk mengajarkan komunikasi yang efektif bagi anak.
2.    Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain.
Sering kali anak tidak dapat memahami isi pembicaraan orang tua atau anggota keluarga lain. Hal ini disebabknn kurangnya perbendaharaan kata pada anak. Di samping itu juga dikarenakan orang tua sering kali berbicara sangat cepat dengan mempergunakan kata-kata yang belum dikenal oleh anak. Bagi keluarga yang menggunakan dua bahasa (bilingual) anak akan lebih banyak mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan orang tuanya atau saudaranya yang tinggal dalam satu rumah. Orang tua hendaknya selalu berusaha mencari penyebab kesulitan anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat memperbaiki atau membetulkan apabila anak kurang mengerti dan bahkan salah mengintepretasikan suatu pembicaraan.

D.  Teori-Teori Perkembangan Bahasa
Teori-teori perkembangan bahasa adalah sebagai berikut:
1.    Teori Nativis
Teori "Nativist" oleh Chomsky", mengutarakan bahwa bahasa sudah ada di dalam diri anak. Saat seorang anak dilahirkan, ia telah memiliki serangkaian kemampuan berbahasa yang disebut "Tata Bahasa Umum" atau "Universal Grammar". Anak tidak sekadar meniru bahasa yang ia dengarkan, tapi ia juga mampu menarik kesimpulan dari pola yang ada. Ini karena anak memiliki sistem bahasa yang disebut Perangkat Penguasaan Bahasa (Language Acquisition Devise/LAD). Menurut teori ini, anak perlu mendapatkan model pembelajaran bahasa sejak dini. Anak akan belajar bahasa dengan cepat, terutama untuk bahasa kedua, sebelum usia 10 tahun. Chomsky merupakan penganut nativisme. Menurutnya, bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan memiliki peran kecil di dalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa.
Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat melalui “peniruan”. Nativisme juga percaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (language acquisition device, disingkat LAD). Mengenai bahasa apa yang akan diperoleh anak bergantung pada bahasa yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan di lingkungan Amerika sudah pasti bahasa Inggris menjadi bahasa pertamanya. Semua anak yang normal dapat belajar bahasa apa saja yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Apabila diasingkan sejak lahir, anak ini tidak memperoleh bahasa. Dengan kata lain, LAD tidak mendapat “makanan” sebagaimana biasanya sehingga alat ini tidak bisa mendapat bahasa pertama sebagaimana lazimnya seperti anak yang dipelihara oleh srigala (Baradja, 1990:33).
2.    Teori Behavioristik
Para ahli teori behavioristik berpendapat bahwa anak dilahirkan tanpa membawa kemampuan apa-apa. Dengan demikian anak belajar bahasa melalui pengondisian dari lingkungan, proses imitasi, reward dan reinforcement atau penguatan.
Teori "Behaviorist" oleh Skinner, mendefinisikan bahwa pembelajaran dipengaruhi oleh perilaku yang dibentuk oleh lingkungan eksternalnya, artinya pengetahuan merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungannya melalui pengondisian stimulus yang menimbulkan respons. Perubahan lingkungan pembelajaran dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku anak secara bertahap cenderung akan diulang ketika mendapat dorongan yang sesuai dengan kemampuan dari lingkungannya. Latihan untuk anak harus menggunakan bentuk-bentuk Perilaku positif pada anak anak pertanyaan (stimulus) dan jawaban (respons) yang dikenalkan secara bertahap, mulai dari yang sederhana sampai pada yang lebih rumit.
Imitasi, reward, reinforcement dan frekuensi suatu perilaku merupakan factor yang penting dalam mempelajari bahasa. Sedangkan Bandura, menerangkan perkembangan bahasa dari sudut social. Artinya anak belajar bahasa dengan melakukan peniruan atau imitasi suatu model yang berarti tidak harus menerima penguatan dari orang lain. 
3.    Teori Kogntif
Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Vigotsky (1986) mengemukakan bahwa perkembangan  kognitif dan bahasa anak berkaitan erat dengan kebudayaan dan masyarakat dilingkungan anak. Untuk bahasa  yang sulit dipahami oleh anak digunakan istilah Zona perkembangan maksimal (ZPD), yaitu suatu proses perkembangan bahasa anak yg bersifat internal dan dinamis yang dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki Dalam ZPD dikenal adanya batas rendah yaitu tingkat masalah yang dapat dipecahkan oleh anak. Sedangkan batas yang lebih tinggi yaitu  tingkat tanggungjawab yang dapat diterima anak dengan bantuan orang lain.
Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223).
Menurut Peaget  mengatakan bahwa berpikir sebagai prasyarat berbahasa yang akan terus berkembang (progresif) sebagai hasil dari pengalaman dan penalaran.  Perkembangan bahasa awal anak berkaitan erat dengan menyentuh, mendengar, melihat, merasa,dan membau.
Para ahli kognitif menyakini adanya peran hubungan antara anak, orang dewasa, dan lingkungan social dengan perkembangan bahasa anak.  Perkembangan bahasa anak tidak terlepas dari konteks social dan perkembangan kognitif anak.  Awal perkembangan bahasa anak terjadi pada stadium sensori motorik yaitu ketika anak usia 18 bulan, di mana pada usia ini anak sudah memiliki pemahaman terhadap objek-objek tertentu, anak sudah mampu memanipulasi objek-objet  tersebut. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.
4.    Teori Pragmatik
Dipelopori oleh Halliday (dalam Bromley, 1995) berpandangan bahwa anak  belajar bahasa  dalam rangka sosialisasi dan mengarahkan prilaku orang lain agar sesuai dengan keinginannya.  Anak selain belajar bentuk dan arti bahasa,  anak juga termotivasi   oleh fungsi bahasa yang dapat mereka peroleh.
Menurut Halliday mengatakan bahwa  fungsi bahasa  sebagai berikut:
a.    Fungsi Instrumental: penggunaan bahasa untuk mencapai suatu hal yang bersifat materi seperti makan, minum, dan sebagainya.
b.    Fungsi Regulatoris/dogmatis  : penggunaan bahasa untuk memerintah dan perbaikan tingkah laku. Contoh: Berikan pada saya
c.    Fungsi Interaksional: bahasa untuk saling mencurahkan perasaan pemikiran antara seseorang dan orang lain. Contoh: Ajaklah saya …
d.   Fungsi personal: seseorang menggunakan bahasa untuk mencurahkan perasaan dan pikiran. Contoh: Saya senang ini…
e.    Fungsi Heuristik: penggunaan bahasa untuk mencapai mengungkap tabir fenomena dan keinginan untuk mempelajarinya. Contoh: Mengapa itu terjadi?
f.     Fungsi Imajinatif: Penggunaan bahasa untuk mengungkapkan imajinasi seseorang dan gambaran-gambaran tentang discovery seseorang dan tidak sesuai dengan realita (dunia nyata). Contoh: seandainya saya…
g.    Fungsi Representasional: pengunaan bahasa untuk menggambarkan pemikiran dan wawasan serta menyampaikannya pada orang lain..
5.    Teori Interaksionis
Kajian teori interaksionis bertolak dari pandangan bahwa bahasa merupakan perpaduan factor genetic dan factor lingkungan. Kemampuan kognitif dan kemampuan berbahasa terjadi secara bersamaan. Anak dilahirkan dengan kemampuan untuk memahami, mempelajari,  dan mengemukakan bahasa dan kemampuan berinteraksi  dengan lingkungannya yang meliputi proses imitasi, reinforcement, dan reward, dan peran social.
Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan adanya interaksi antara masukan “input” dan kemampuan internal yang dimiliki (kognitif anak). Setiap anak sudah memiliki Perangkat Penguasaan Bahasa (Language Acquisition Devise/LAD) sejak lahir. Namun, tanpa ada masukan yang sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis. 

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
1.    Tahap perkembangan bahasa anak secara umum, yaitu: reflexsive vocalization, babbling, lalling, echolalia dan true speech.
2.    Tahap perkembangan bahasa anak menurut Piaget dan Vygotsky, yaitu: tahap pralinguistik, tahap satu kata, tahap dua kata, tahap tata bahasa pra-dewasa dan tahap kompetensi penuh.
3.    Tahap perkembangan dari segi pemerolehan bahasa menurut komponen-komponennya, yaitu: perkembangan pragmatic, perkembangan semantik, perkembangan sintaksis, perkembangan morfologi, dan perkembangan fonologi.
4.    Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak, yaitu: kognisi, pola komunikasi dalam keluarga, jumlah anak atau jumlah keluarga, posisi urutan kelahiran dan kedwibahasaan.
5.    Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak, yaitu : kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata,lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara, sering kali berbicara yang tidak teratur, dan tidak konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru.
6.    Teori-teori perkembangan bahasa menurut ahli, yaitu teori nativis, teori behavioristik, teori cognitive, teori pragmatic, dan teori interaksionitas.

B.  Saran
Makalah ini disarankan untuk dibaca oleh mahasiswa maupun dosen untuk membantu proses belajar mengajar dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang perkembangan bahasa anak.
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca demi perbaikan makalah ini ke depannya.

DAFTAR PUSTAKA

Aziez, Feizal. 2012. Pemerolehan  dan Perkembangan Bahasa Pada Anak.
bahasa.html. (Diakses: 12 Mei, pukul  11.49 p.m.).
Gross, Richard. 2012. Psychology: The Science of Mind and Behaviour. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Hendrooke. 2012. Teori-teori Perkembanagan Anak.
bahasa.html. (Diakses: 12 Mei 2015, pukul 11.59 p.m.).
Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Izaty, Silmy. 2013. Makalah Perkembangan Bahasa Anak.
misilmy.blogspot.com/2013/06/makalah-perkembangan-bahasa-anak.html. (diakses pada 9
Mei 2015, pukul 1:17 a.m.).
Purnomo, Fendy. Psikologi Perkembangan Anak.
2015, pukul 11.49 p.m.).

Disini ada makalah yang lainnya:
Makalah Anak Lamban Belajar (Slow Learner)
Makalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Makalah Manajemen Kesiswaan