BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang
berlangsung seumur hidup dengan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang
lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa
serta sosialisasi dan kemandirian. Ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan anak
antara lain, menimbulkan perubahan, berkolerasi dengan pertumbuhan, memiliki
tahap yang berurutan dan mempunyai pola yang tetap.
Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah
masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Dan jika diibaratkan
seperti pondasi dalam sebuah bangunan, jika pondasinya kokoh maka bangunannya
pun akan kuat dan tahan lama, dan sebaliknya jika pondasinya rapuh maka
bangunannya akan mudah roboh atau rusak.
Sebagian besar ketidakberdayaan bayi yang baru lahir
berasal dari ketidakmampuan mereka untuk menyatakan kebutuhan dan keinginan
mereka dalam bentuk yang dipahami orang lain dan ketidakmampuan mereka memahami
kata dan isyarat yang digunakan orang lain.
Banyak orang yang mempertukarkan penggunaan istilah
“bicara” (speech) dengan “bahasa” (language), meskipun kedua istilah tersebut
sebenarnya tidak sama. Bahasa mencakup setiap sarana komunikasi dengan
menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada orang lain.
Bicara adalah bentuk bahasa yang mnggunakan artikulasi atau kata-kata yang
digunakan untuk menyampaikan maksud.
Perkembangan bahasa pada anak sangatlah bertahap yang
di bagi dalam beberapa bagian, sebagaimana halnya dalam bidang perkembangan
lainnya tahun-tahun awal kehidupan sangat penting bagi perkembangan bicara
anak. Jadi tidak mengejutkan bahwa bahasa sangat krusial bagi sebagian besar
aktifitas manusia dan untuk itulah anak memerlukan bahasa untuk berkomunikasi.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat ditarik berdasarkan
latar belakang yang ada yaitu:
1. Apa saja tahap-tahap perkembangan bahasa anak?
2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak?
3. Apa saja hambatan dan kesulitan dalam perkembangan bahasa anak?
4. Apa saja teori-teori perkembangan bahasa?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan bahasa pada anak;
2. Untuk mempengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa
anak;
3. Untuk mengetahui hambatan dan kesulitan dalam perkembangan bahasa anak;
4. Untuk mengetahui teori-teori perkembangan bahasa anak.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tahap-Tahap Perkembangan
Bahasa Anak
Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak secara Umum:
1.
Reflexsive Vocalization
Jadi, bayi menangis bukan karena ia memang ingin
menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari. Ostwald dan Peltzman
menelaskan bahwa “menangis merupakan salah satu cara pertama yang dapat
dilkukan bayi untuk berkomunikasi dengan dunia luas”. Melalui tangisan bayi
memberitahukan kebutuhannya kepada seseorang untuk menghilangkan rasa: lapar,
pedih, lelah, dan keadaan tubuh yang tidak menyenangkan lainnya dan untuk
memenuhi keinginan untuk diperhatikan. Untuk membuat komunikasi tersebut lebih
mudah dipahami orang lain, alam menyediakan perbedaann kualitas suara tangis
sedini tiga atau empat minggu setelah dilahirkan. Sebagai contoh, rasa pedih
diungkapkan dengan tangisan melengking, keras diselingi dengan rintihan dan
rengekan. Sedangkan tangis karena lapar terdengar keras dan diselingi dengan
gerakan menghisap. Meskipun gerakan bayi dapat membantu menafsirkan arti
tangis, arti tersebut tidak selalu ditafsirkan dengan betul. Akibatnya nilai
komunikatifnya berkurang. Perbedaan individual dalam jumlah tangisan lebih
besar ketimbang perbedaan kualitas suara tangis. Banyak sedikitnya tangisan
bayi berbeda-beda menurut cepat dan memadainya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan mereka.
2.
Babling
Pada usia lebih dari 3 minggu, ketika bayi merasa lapar
atau tidak nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan
sebelumnya, tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan
keinginan atau perasaan si bayi.
3.
Lalling
Di usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar
suara-suara namun belum jelas. Bayi mulai dapat mendengar pada usia 2 s/d 6
bulan sehingga ia mulai dapat mengucapkan kata dengan suku kata yang
diulang-ulang, seperti: “ba….ba…, ma..ma….”.
Karena meningkatnya kemampuan mengendalikan arus udara
yang melewati pita suara, bayi dapat mengucapkan bunyi seperti yang diinginkan.
Oleh karena itu, celoteh adalah bentuk senam suara, yang timbul secara spontan.
Celoteh mengandung nilai jangka panjang yang besar
karena tiga alasan. Pertama, berceloteh adalah praktik verbal yang
meletakkan dasar bagi perkembangan terlatih yang dikendaki dalam berbicara. Kedua,
celoteh mendorong keinginan berkomunikasi dengan orang lain. Ketiga,
berceloteh membantu bayi merasakan bahwa ia bagian dari kelompok sosial.
4.
Echolalia
Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10 bulan
ia mulai meniru suara-suara yang di dengar dari lingkungannya, serta ia juga
akan menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta
sesuatu.
5.
True Speech
Bayi mulai dapat berbicara dengan benar. Saat itu
usianya sekitar 18 bulan atau biasa disebut batita. Namun, pengucapannya belum
sempurna seperti orang dewasa.
Menurut Piaget dan Vygotsky, tahap-tahap perkembangan
bahasa anak adalah sebagai berikut:
1.
Tahap Pralinguistik (0-12 bulan)
Pada tahun pertama, bayi pada dasarnya pralinguistik.
Mereka membuat suara-suara dengan organ-organ vokalnya, seperti tangisan.
Menangis cenderung mendominasi bulan pertama, dan orang tua sedikit demi
sedikit belajar membedakan beragam jenis tangisan (Gustaf & Harris, 1990).
Pada umur 1 bulan, bayi mampu membedakan fonem-fonem
(seperti “ba” dan “pa”) dan bunyi-bunyi lain, meskipun secara fisik mapun
akustik mungkin nyaris identik. Bayi yang berusia 4 – 7 bulan biasanya sudah
mulai mengahasilkan banyak suara baru yang menyebabkan masa ini disebut masa ekspansi
(Dworetzky, 1990). Suara-suara baru itu meliputi: bisikan, menggeram, dan
memekik. Setelah memasuki usia 7–12 bulan, ocehan bayi meningkat pesat dikenal
dengan masa connical.
2.
Tahap Satu Kata (12-18 bulan)
Biasanya, seorang anak menghasilkan kata pertamanya
pada sekitar umur satu tahun, meskipun ada variabilitas yang cukup besar dalam
hal ini (Rice, 1989). Kata-kata pertama (articulate words) mereka
seringkali tercipta dengan cara yang paling mudah secara fonologis (sangat
mirip dengan ocehan mereka, yang yang tidak mirip dengan “kata-kata orang
dewasa”.
Tahap satu kata juga ditandai dengan holophrases.
Dalam holophrastic speech, sepath kata tunggal (misalnya “susu”) digunakan
untuk menyampaikan pesan yang jauh lebih kompleks (misalnya, “aku mau susu”
atau “aku menumpahkan susu”). Holopharases disertai dengan gerak-gerik dan nada
suara untuk menambahkan makna yang lengkap pada sebuah kata individual. Mereka
mempresentasikan “makna dua kata” (kata plus gerak-gerik) sebelum dua patah
kata benar-benar digunakan bersama-sama di dalam sebuah pembicaraan (Bates et
al., 1987). Akan tetapi mereka bergantung kepada si penerima holophrase, yang
membuat holophrase yang benar.
3.
Tahap Kalimat Dua Kata
Selain perkembangan perbendaharaan kata yang
berkelanjutan, pemahaman tentang tata bahasa pun terus tumbuh. Brown
(1973) membagi tahap ini menjadi tata bahasa tahap 1 dan tahap 2.
a. Tata bahasa tahap 1 (18-30 bulan)
Di sini pembicaraan anak pada dasarnya telegrafik
(Brown, 1973): hanya kata –kata yang menyampaikan informasi gramatikal
(kontentif) yang digunakan. Contoh, anak-anak sering mengatakan “there cow”
untuk menyampaikan pesan yang mendasarinya “there is a cow”.
b. Tata bahasa tahap 2 (sejak umur sekitar 30 bulan)
Tahap ini berlangsung samapai sekitar umur empat atau
lima tahun. Perbendaharaan kata anak bertambah pesat, dan kalimat-kalimatnya
menjadi lebih panjang dan lebih kompleks. Mean length utterance (MLU) atau
rata-rata panjang kalimat adalah jumlah kata-kata di dalam sebuah kalimat
dibagi total jumlah kalimat yang dihasilkan. Jadi, seorang anak yang
menghasilkan 100 kalimat dengan 300 kata, maka memiliki MLU= 3,0. Contoh
perkembangan bahasa pada tahap ini yaitu, dari “daddy hat” mungkin menjadi
“daddy wear hat” dan akhirnya “daddy is wearing a hat”. Kalimat-kalimat juga
menjadi lebih panjang karena kata penghubung (seperti “dan” dan “sehingga”).
Tata bahasa tahap 2 benar-benar dimulai dengan penggunaan kata-kata yang murni
gramatikal untuk pertama kalinya.
Menurut Marat (1983, dalam Hartati, 2011), ada
beberapa keterampilan mencolok yang dikuasai anak pada tahap ini:
1) Pada akhir periode ini, secara garis besar anak telah menguasai bahasa
ibunya, artinya kaidah-kaidah tata bahasa yang utama telah dikuasai.
2) Perbendaharaan kata berkembang, beberapa pengertian abstrak, seperti
pengertian waktu, ruang dan jumlah yang diinginkan mulai muncul.
3) Mereka mulai dapat membedakan kata-kata kerja (misalnya: makan, minum,
pergi, dan lain-lain) dan kata-kata benda (gelas, baju, nasi, buku, dan
lain-lain.) dan sudah dapat menggunakan kata depan (di, ke, dari), kata ganti
(aku, kamu, dia) dan kata kerja bantu (tidak, mau, bukan).
4) Fungs bahasa untuk berkomunikasi mulai betul-betul berfungsi, anak sudah
mulai mengadakan konversasi dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang
dewasa.
5) Persepsi anak dan pengalamanya tentang dunia luar mulai ingin dibaginya
dnegan orang lain, dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, member
tahu, dan lain-lain.
6) Tumbuhnya kreativitas anak dalam pembentukan kata-kata baru.
4.
Tahap Tata Bahasa Pra-Dewasa
Tahap perkembangan pada tahap ii mulai terjadi pada
anak yang sudah berumur 4-5 tahun. Pada tahap ini, anak sudah mulai menerapkan
struktur tata bahasa dan kalimat-kalimat yang agak lebih rumit. Misalnya
kalimat majemuk sederhana seperti “mama beli sayur sama krupuk”. Kemampuan
menghasilkan kalimat sudah mulai beragam ada kalimat pertanyaan, kalimat
perintah dan kalimat pernyataan/kalimat berita.
Pada tahap ini anak sudah tidak mengalami kesulitan
dalam mengucapkan bunyi-bunyi. Walaupun masih ada yang kesulitan dalam
mengucapkan bunyi tertentu, misalnya, /r/. Menurut Clark, pada tahap ini, anak
masih kesulitan mengungkapkan pikirannya ke dalam kata-kata yang bermakna. Hal
ini karena anak masih memiliki keterbatasan, seperti: penguasaan struktur
bahasa, kosakata dna imbuhan.
5.
Tahap Kompetensi Penuh
Sekitar usia 5-7 tahun, anak-anak mulai memasuki tahap
yang disebut tahap kompetensi penuh. Sejak usia 5 tahun pada umumnya anak-anak yang
perkembangannya normal telah menguasai elemen-elemen sintaksis bahasa ibunya
dan telah memiliki kompetensi (pemahaman dan produktivitas bahasa) secara
memadai.
Berikutnya, anak memasuki sekolah dasar, selama
periode ini, anak-anak dihadapkan pada tugas utama mempelajari bahasa tulis.
Kemampuan bahasa mereka bekembang dengan adanya pemerolehan bahasa tulis
(written language acquisition).
Pada masa perkembangan selanjutnya, yakni pada usia
remaja, terjadi perkembangan bahasa yang penting. Periode ini menurut Gielson
merupakan umur yang sensitive untuk belajar bahasa. Ramaja menggunakan bahasa
yang khas dalam berbahasa, sebagai bagian dari terbentuknya identitas diri.
Perkembangan bahasa anak dilihat dari pemerolehan
bahasa menurut komponen-komponennya, sebagai berikut:
1.
Perkembangan Pragmatik
Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah
dimulai sejak dini, pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak
nyaman, misalnya karena lapar, popok basah. Dari sini bayi akan belajar bahwa
ia akan mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga
kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu
buatnya.
a. Pada usia 3 minggu, bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar, misalnya
wajah seseorang, tatapan mata, suara, dan gelitikan. Ini disebut senyum sosial.
b. Pada usia 12 minggu, mulai dengan pola dialog sederhana berupa suara
balasan bila ibunya memberi tanggapan.
c. Pada usia 2 bulan, bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi ibunya.
d. Pada usia 5 bulan, bayi mulai meniru gerak gerik orang, mempelajari bentuk
ekspresi wajah.
e. Pada usia 6 bulan, bayi mulai tertarik dengan benda-benda sehinga
komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi, dan benda-benda.
f. Pada usia 7-12 bulan, anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan keinginannya. Gerak-gerik
ini akan berkembang disertai dengan bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten.
Pada masa ini sampai sekitar 18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan
penggunaan satu suku kata.
g. Pada usia 2 tahun, anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan
mampu merangkai kalimat dua kata, bereaksi terhadap pasangan bicaranya dan
masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah topik dan
mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar.
Perilaku ibu yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik
baru.
2.
Perkembangan Semantik
Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam
perkembangan semantik, maka pada umur 6-9 bulan anak telah mengenal orang atau
benda yang berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep berkembang
pesat pada masa prasekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata lebih
banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan terjadi
penambahan lima kata perhari di usia 1,5 sampai 6 tahun. Pemahaman kata
bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi strategi pemetaan
yang cepat diusia ini sehingga anak dapat menghubungkan suatu kata dengan
rujukannya.
3.
Perkembangan Sintaksis
Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia
kira-kira 18 bulan walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia 1 tahun
bahkan lebih dari 2 tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata,
berbeda dengan masa “kalimat satu kata” sebelumnya yang disebut masa
holofrastis. Kalimat satu kata bisa ditafsirkn dengan mempertimbangkan konteks
penggunaannya. Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkin
kita menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut. Peralihan dari kalimat
satu kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap.
Pada waktu kalimat pertama terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi
kalimat, rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua
kata memberi makna lebih dari satu maka anak membedakannya dengan menggunakan
pola intonasi yang berbeda. Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat pesat
pada waktu anak menjalani usia 2 tahun dan mencapai puncaknya pada akhir usia 2
tahun.
4.
Perkembangan Morfologi
Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan
panjang ucapan rata-rata yang diukur dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan,
mean length of utterance (MLU) adalah alat prediksi kompleksitas bahasa pada
anak yang berbahasa Inggris. MLU sangat erat berhubungan dengan usia dan
merupakan prediktor yang baik untuk perkembangan bahasa. Dari usia 18 bulan
sampai 5 tahun MLU meningkat kira-kira 1,2 morfem per tahun. Penguasaan morfem
mulai terjadi saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun. Beberapa
sumber yang membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan morfologi semuanya
merupakan Bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia.
5.
Perkembangan Fonologi
Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari
dekode bahasa. Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada
kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia prasekolah,
anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem fonologi tapi juga
mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk membedakan
makna.
B. Faktor-faktor Perkembangan
Bahasa Anak
Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang
mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
1. Kognisi (Proses memperoleh pengetahuan). Tinggi rendahnya kemampuan kognisi
individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini
relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan
antara pikiran dengan bahasa seseorang.
2. Pola komunikasi dalam keluarga. Dalam suatu keluarga yang pola
komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya.
3. Jumlah anak atau jumlah keluarga. Suatu keluarga yang memiliki banyak
anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi
komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal
dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.
4. Posisi urutan kelahiran. Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya
di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini
disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu
hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.
5. Kedwibahasaan (Pemakaian dua bahasa). Anak yang dibesarkan dalam keluarga
yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat
perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena
anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah
dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa
Indonesia.
Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja”
Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor,
yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin,
dan hubungan keluarga.
C. Hambatan Perkembangan Bahasa
Anak
Apabila anak tidak diberikan rangsangan (stimulasi)
didorong untuk berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa/kosa
kata yang baik dan benar.
Kekurangan dorongan tersebut merupakan penyebab serius
keterlambatan berbicara anak. Anak-anayk dari golongan yang lebih atau menengah
yang orang tuanya ingin sekali menyuruh mereka (anak) belajar berbicara lebih
awal (cepat) dan lebih baik, sangat kurang kemungkinannya mengalami
keterlambatan berbicara pada anak.Sedangkan anak yang berasal dari golongan
yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan tersebut
bagi mereka, apakah kekurangan waktu/karena mereka tidak menyadari betapa
pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut.
Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak
yaitu:
1. Kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata,
2. Lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara,
3. Sering kali berbicara yang tidak teratur,
4. Tidak konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru.
Perkembangan berbicara merupakan suatu proses yang
sangat sulit dan rumit. Terdapat beberapa kendala yang sering kali dialami oleh
anak, antara lain:
1. Anak cengeng.
Anak yang sering kali menangis dengan berlebihan dapat
menimbulkan gangguan pada fisik maupun psikis anak. Dari segi fisik, gangguan
tersebut dapat berupa kurangnya energi sehingga secara otomatis dapat
menyebabkan kondisi anak tidak fit. Sedangkan gangguan psikis yang muncul
adalah perasaan ditolak atau tidak dicintai oleh orang tuanya, atau anggota
kcluarga lain. Sedangkan reaksi sosial terhadap tangisan anak biasanya bernada
negatif. Oleh karena itu peranan orang tua sangat penting untuk menanggulangi
hal tersebut, salah satu cara untuk mengajarkan komunikasi yang efektif bagi
anak.
2. Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain.
Sering kali anak tidak dapat memahami isi pembicaraan
orang tua atau anggota keluarga lain. Hal ini disebabknn kurangnya
perbendaharaan kata pada anak. Di samping itu juga dikarenakan orang tua sering
kali berbicara sangat cepat dengan mempergunakan kata-kata yang belum dikenal
oleh anak. Bagi keluarga yang menggunakan dua bahasa (bilingual) anak akan
lebih banyak mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan orang tuanya atau
saudaranya yang tinggal dalam satu rumah. Orang tua hendaknya selalu berusaha
mencari penyebab kesulitan anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat
memperbaiki atau membetulkan apabila anak kurang mengerti dan bahkan salah
mengintepretasikan suatu pembicaraan.
D. Teori-Teori Perkembangan
Bahasa
Teori-teori perkembangan bahasa adalah sebagai berikut:
1. Teori Nativis
Teori "Nativist" oleh Chomsky",
mengutarakan bahwa bahasa sudah ada di dalam diri anak. Saat seorang anak
dilahirkan, ia telah memiliki serangkaian kemampuan berbahasa yang disebut
"Tata Bahasa Umum" atau "Universal Grammar". Anak tidak
sekadar meniru bahasa yang ia dengarkan, tapi ia juga mampu menarik kesimpulan
dari pola yang ada. Ini karena anak memiliki sistem bahasa yang disebut
Perangkat Penguasaan Bahasa (Language Acquisition Devise/LAD). Menurut teori
ini, anak perlu mendapatkan model pembelajaran bahasa sejak dini. Anak akan
belajar bahasa dengan cepat, terutama untuk bahasa kedua, sebelum usia 10
tahun. Chomsky merupakan penganut nativisme. Menurutnya, bahasa hanya dapat
dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia.
Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku
berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola
perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan
memiliki peran kecil di dalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa
dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan
bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa
yang rumit dari orang dewasa.
Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang
kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat
melalui “peniruan”. Nativisme juga percaya bahwa setiap manusia yang lahir
sudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (language
acquisition device, disingkat LAD). Mengenai bahasa apa yang akan diperoleh
anak bergantung pada bahasa yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Sebagai
contoh, seorang anak yang dibesarkan di lingkungan Amerika sudah pasti bahasa
Inggris menjadi bahasa pertamanya. Semua anak yang normal dapat belajar bahasa
apa saja yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Apabila diasingkan sejak
lahir, anak ini tidak memperoleh bahasa. Dengan kata lain, LAD tidak mendapat
“makanan” sebagaimana biasanya sehingga alat ini tidak bisa mendapat bahasa
pertama sebagaimana lazimnya seperti anak yang dipelihara oleh srigala
(Baradja, 1990:33).
2. Teori Behavioristik
Para ahli teori behavioristik berpendapat bahwa anak
dilahirkan tanpa membawa kemampuan apa-apa. Dengan demikian anak belajar bahasa
melalui pengondisian dari lingkungan, proses imitasi, reward dan reinforcement
atau penguatan.
Teori "Behaviorist" oleh Skinner,
mendefinisikan bahwa pembelajaran dipengaruhi oleh perilaku yang dibentuk oleh
lingkungan eksternalnya, artinya pengetahuan merupakan hasil dari interaksi
dengan lingkungannya melalui pengondisian stimulus yang menimbulkan respons. Perubahan lingkungan pembelajaran dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan
perilaku anak secara bertahap cenderung akan diulang ketika mendapat dorongan
yang sesuai dengan kemampuan dari lingkungannya. Latihan untuk anak harus
menggunakan bentuk-bentuk Perilaku positif pada anak anak pertanyaan (stimulus)
dan jawaban (respons) yang dikenalkan secara bertahap, mulai dari yang
sederhana sampai pada yang lebih rumit.
Imitasi, reward, reinforcement dan frekuensi suatu
perilaku merupakan factor yang penting dalam mempelajari bahasa. Sedangkan
Bandura, menerangkan perkembangan bahasa dari sudut social. Artinya anak
belajar bahasa dengan melakukan peniruan atau imitasi suatu model yang berarti
tidak harus menerima penguatan dari orang lain.
3. Teori Kogntif
Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition
artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition
(kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Vigotsky
(1986) mengemukakan bahwa perkembangan kognitif dan bahasa anak berkaitan
erat dengan kebudayaan dan masyarakat dilingkungan anak. Untuk bahasa
yang sulit dipahami oleh anak digunakan istilah Zona perkembangan maksimal (ZPD),
yaitu suatu proses perkembangan bahasa anak yg bersifat internal dan dinamis
yang dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki Dalam ZPD dikenal adanya batas
rendah yaitu tingkat masalah yang dapat dipecahkan oleh anak. Sedangkan batas
yang lebih tinggi yaitu tingkat tanggungjawab yang dapat diterima anak
dengan bantuan orang lain.
Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah
yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal
dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa
harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam
kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan
bahasa (Chaer, 2003:223).
Menurut Peaget mengatakan bahwa berpikir sebagai
prasyarat berbahasa yang akan terus berkembang (progresif) sebagai hasil dari
pengalaman dan penalaran. Perkembangan bahasa awal anak berkaitan erat
dengan menyentuh, mendengar, melihat, merasa,dan membau.
Para ahli kognitif menyakini adanya peran hubungan
antara anak, orang dewasa, dan lingkungan social dengan perkembangan bahasa
anak. Perkembangan bahasa anak tidak terlepas dari konteks social dan
perkembangan kognitif anak. Awal perkembangan bahasa anak terjadi pada
stadium sensori motorik yaitu ketika anak usia 18 bulan, di mana pada usia ini
anak sudah memiliki pemahaman terhadap objek-objek tertentu, anak sudah mampu
memanipulasi objek-objet tersebut. Simbol ini kemudian berkembang menjadi
kata-kata awal yang diucapkan anak.
4. Teori Pragmatik
Dipelopori oleh Halliday (dalam Bromley, 1995)
berpandangan bahwa anak belajar bahasa dalam rangka sosialisasi dan
mengarahkan prilaku orang lain agar sesuai dengan keinginannya. Anak
selain belajar bentuk dan arti bahasa, anak juga termotivasi
oleh fungsi bahasa yang dapat mereka peroleh.
Menurut Halliday mengatakan bahwa fungsi
bahasa sebagai berikut:
a. Fungsi Instrumental: penggunaan bahasa untuk mencapai suatu hal yang
bersifat materi seperti makan, minum, dan sebagainya.
b. Fungsi Regulatoris/dogmatis : penggunaan bahasa untuk memerintah dan
perbaikan tingkah laku. Contoh: Berikan pada saya
c. Fungsi Interaksional: bahasa untuk saling mencurahkan perasaan pemikiran
antara seseorang dan orang lain. Contoh: Ajaklah saya …
d. Fungsi personal: seseorang menggunakan bahasa untuk mencurahkan perasaan
dan pikiran. Contoh: Saya senang ini…
e. Fungsi Heuristik: penggunaan bahasa untuk mencapai mengungkap tabir
fenomena dan keinginan untuk mempelajarinya. Contoh: Mengapa itu terjadi?
f. Fungsi Imajinatif: Penggunaan bahasa untuk mengungkapkan imajinasi
seseorang dan gambaran-gambaran tentang discovery seseorang dan tidak sesuai
dengan realita (dunia nyata). Contoh: seandainya saya…
g. Fungsi Representasional: pengunaan bahasa untuk menggambarkan pemikiran dan
wawasan serta menyampaikannya pada orang lain..
5. Teori Interaksionis
Kajian teori interaksionis bertolak dari pandangan
bahwa bahasa merupakan perpaduan factor genetic dan factor lingkungan.
Kemampuan kognitif dan kemampuan berbahasa terjadi secara bersamaan. Anak
dilahirkan dengan kemampuan untuk memahami, mempelajari, dan mengemukakan
bahasa dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya yang meliputi
proses imitasi, reinforcement, dan reward, dan peran social.
Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa
merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan
bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan adanya interaksi antara
masukan “input” dan kemampuan internal yang dimiliki (kognitif anak). Setiap
anak sudah memiliki Perangkat Penguasaan Bahasa (Language Acquisition
Devise/LAD) sejak lahir. Namun, tanpa ada masukan yang sesuai tidak mungkin
anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tahap perkembangan bahasa anak secara umum, yaitu: reflexsive vocalization,
babbling, lalling, echolalia dan true speech.
2. Tahap perkembangan bahasa anak menurut Piaget dan Vygotsky, yaitu: tahap
pralinguistik, tahap satu kata, tahap dua kata, tahap tata bahasa pra-dewasa
dan tahap kompetensi penuh.
3. Tahap perkembangan dari segi pemerolehan bahasa menurut
komponen-komponennya, yaitu: perkembangan pragmatic, perkembangan semantik,
perkembangan sintaksis, perkembangan morfologi, dan perkembangan fonologi.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak, yaitu: kognisi,
pola komunikasi dalam keluarga, jumlah anak atau jumlah keluarga, posisi urutan
kelahiran dan kedwibahasaan.
5. Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak, yaitu : kelemahan
didalam berbicara (berbahasa) kosa kata,lamban mengembangkan suatu
bahasa/didalam berbicara, sering kali berbicara yang tidak teratur, dan tidak
konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru.
6. Teori-teori perkembangan bahasa menurut ahli, yaitu teori nativis, teori
behavioristik, teori cognitive, teori pragmatic, dan teori interaksionitas.
B. Saran
Makalah ini disarankan untuk dibaca oleh mahasiswa
maupun dosen untuk membantu proses belajar mengajar dan pengembangan ilmu
pengetahuan tentang perkembangan bahasa anak.
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca demi
perbaikan makalah ini ke depannya.
DAFTAR PUSTAKA
Aziez, Feizal.
2012. Pemerolehan dan Perkembangan Bahasa Pada Anak.
bahasa.html.
(Diakses: 12 Mei, pukul 11.49 p.m.).
Gross, Richard.
2012. Psychology: The Science of Mind and Behaviour. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Hendrooke. 2012.
Teori-teori Perkembanagan Anak.
bahasa.html.
(Diakses: 12 Mei 2015, pukul 11.59 p.m.).
Hurlock,
Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Izaty, Silmy.
2013. Makalah Perkembangan Bahasa Anak.
misilmy.blogspot.com/2013/06/makalah-perkembangan-bahasa-anak.html.
(diakses pada 9
Mei 2015, pukul 1:17 a.m.).
Purnomo, Fendy. Psikologi
Perkembangan Anak.
2015, pukul 11.49 p.m.).
Disini ada makalah yang lainnya:
Makalah Anak Lamban Belajar (Slow Learner)
Makalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Makalah Manajemen Kesiswaan