BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap
individu yang terlahirkan di dunia ini memiliki kemampuan yang berbeda terutama
dalam bidang akademik, yang diakibatkan adanya perbedaan tingkat
intelegensi yang dimiliki oleh setiap individu tersebut. Sering kita temui
adanya individu yang memiliki tingkat intelegensi yang
tinggi dan sering mendominasi dalam kehidupan sehari-hari terutama
dalam proses pembelajaran, yang disebut anak berbakat atau
pintar. Ada pula anak yang biasa-biasa saja yang
intelegensinya normal atau sering disebut dengan anak normal, dan sering
pula ditemukan anak yang memiliki tingkat intelegensi rendah atau di bawah
normal yang mengakibatkan mereka mengalami keterlambatan belajar.
Di
Indonesia masih banyak anak yang mengalami lamban belajar terutama dalam bidang
akademiknya. Akibat lamban belajar tersebut, prestasi belajar anak menurun atau
rendah. Hal tersebut menjadi salah satu faktor rendahnya mutu
pendidikan di Indonesia. Dalam dunia pendidikan tentunya, kita tidak
akan lepas dari permasalahan tersebut. Memang sudah menjadi kewajiban kita
sebagai calon pendidik untuk memahami permasalahan-permasalahan yang ada
tersebut dengan jelas, dan mengetahui serta melakukan upaya pemecahan
masalah-masalah tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dijelaskan
mengenai pengertian slow learner atau yang disebut lamban
belajar pada anak, bagaimana karakteristik dan penyebabnya, untuk membantu
calon pendidik agar memahami cara menghadapi anak yang mengalami gangguan
lamban belajar.
B.
Rumusan masalah
1.
Bagaimana
pengertian dari slower learner dan cara
mengidentifikasinya?
2.
Bagaiman
cara memahami latar belakang slower learner?
3.
Bagaimana
ciri-ciri slower learner?
4.
Apa saja
factor yang menyebabkan anak lambat belajar?
5.
Bagaimana
metode yang dapat dilakukan untuk menangani slower learner?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
pengertian dari slower learner dan cara
mengidentifikasinya.
2.
Mengetahui
cara memahami latar belakang slower learner.
3.
Memahami ciri-ciri slower learner.
4.
Mengetahui factor yang menyebabkan anak lambat belajar.
5.
Memahami
metode yang dapat dilakukan untuk menangani slower learner.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Anak Lambat Belajar (Slow Learner)
1.
Pengertian Slow Learner
Endang Rochyadi dan Zaenal Alimin (2005: 30) menyebutkan bahwa anak
lamban belajar disebut juga border line atau slow learner. Slow
learner memiliki intelektual yang berada di bawah rata-rata ukuran normal,
tetapi tidak dapat dikatakan tunagrahita. Slow learner menjadi kelompok
tersendiri yang memisahkan anak tunagrahita dengan anak normal. Jika slow
learner disekolahkan di SLB-C atau kelompok tunagrahita, maka slow
learner menjadi anak yang terpandai di kelasnya. Jika disekolahkan di
sekolah reguler, maka slow learner menjadi anak yang paling bodoh di
kelas (Mumpuniarti, 2007: 15).
Nani Triani dan Amir (2013: 3) mengungkapkan bahwa anak lamban belajar
adalah anak yang memiliki prestasi belajar rendah atau sedikit di bawah
rata-rata dari anak pada umumnya, pada salah satu atau seluruh area akademik.
Hal yang sama diungkapkan oleh Erman Amti dan Marjohan (1991: 140) bahwa murid
lamban belajar (slow learner) adalah murid yang intelegensi atau
kemampuan dasarnya setingkat lebih rendah daripada intelegensi murid normal.
Lebih lanjut, Munawir Yusuf, dkk. (2003: 19) menambahkan bahwa slow learner adalah
anak yang memiliki skor IQ 70-90 yang memiliki prestasi rendah pada sebagian
besar atau seluruh mata pelajaran.
Mulyono Abdurrahman (2003: 22) mengungkapkan bahwa anak lamban belajar
(slow learner) adalah anak yang memiliki skor IQ 71hingga 89 yang
memerlukan bantuan secara terus menerus agar dapat mengikuti program pendidikan
yang didasarkan atas kriteria normal. Selain memerlukan bantuan secara terus
menerus, guru juga perlu menggunakan berbagai metode mengajar dan tambahan
waktu baginya ketika mengerjakan tugas agar anak lamban belajar mampu
menyelesaikan tugas yang diberikan guru dengan baik. Meskipun demikian, anak
tersebut tidak akan berkembang seperti anak normal pada umumnya (Maria
J.Wantah, 2007: 14)
Peneliti menyimpulkan bahwa slow learner adalah anak yang
memiliki skor IQ antara 70-90 dan memiliki prestasi rendah pada sebagian atau
seluruh mata pelajaran, sehingga membutuhkan bantuan dari orang lain agar dapat
mengikuti program pendidikan dengan baik.
2.
Penyebab
Anak Lamban Belajar
a.
Faktor Prenatal (sebelum lahir) dan Genetik
Perkembangan
seorang anak dimulai dari sejak pembuahan. Seluruh bawaan biologis seorang anak
yang berasal dari kedua orangtuanya, berupa kromosom yang memecah menjadi
partikel yang disebut gen. Kelainan dari kromosom dapat menyebabkan kelainan
fungsi-fungsi kecerdasan. Selain kromosom, juga disebabkan adanya gangguan
biokimia dalam tubuh. Kondisi jantung ibu yang kurang baik juga menyebabkan
transfer oksigen ke otak bayi menjadi kurang.
Anak lahir
prematur disinyalir dapat melahirkan anak-anak lamban belajar karena organ
tubuh bayi yang belum siap berfungsi secara maksimal sehingga proses
perkembangannya lambat.
b.
Faktor Biologis Non Keturunan
1)
Obat-obatan
Saat ibu
hamil, tidak semua obat dapat diminum, karena ada beberapa jenis obat yang
apabila diminum dapat merugikan janin. Begitu juga dengan ibu alkoholis,
penggunaan dosis yang berlebih dapat berpengaruh pada kemampuan memori jangka
pendek anak.
2)
Keadaan Gizi
Ibu Yang Buruk Saat Hamil
Ibu hamil
harus mendapatkan gizi yang baik selama proses kehamilannya, janin akan dapat
hidup dan berkembang dengan baik jika ibu yang mengandungnya sehat. Bayi dalam
kandungan akan mendapatkan makanan dari darah ibu melalui tali pusar.
3)
Radiasi
Sinar X
Radiasi
sinar X dapat mengakibatkan bermacam gangguan pada otak dan sistem tubuh
lainnya. Radiasi sinar rawan terjadi saat usia kehamilan muda, kemudian
berkurang resikonya saat usia hamil tua.
4)
Faktor Rhesus
Rini
Handayani (2009), menyebutkan bahwa jika seorang pria Rh-positif menikah dengan
wanita Rh-negatif, kadang-kadang mengakibatkan keadaan yang kurang baik bagi
keturunannya.
c.
Faktor Natal (saat proses kelahiran)
Kondisi
kekurangan oksigen saat proses kelahiran karena proses persalinan yang lama,
dapat mengakibatkan transfer oksigen ke otak bayi terhambat. Oleh karena itu,
untuk antisipasi kondisi seperti ini maka ibu hamil yang yang pernah mempunyai
pengalaman seperti ini sebaiknya melakukan persalinan di rumah sakit.
d.
Faktor Postnatal (sesudah lahir) dan Lingkungan
Malnutrisi
dan trauma fisik juga menjadi perhatian kita, begitu juga dengan lingkungan
yang dapat berperan sebagai penyebab terjadinya anak lamban belajar (slow
learner). Stimulasi yang salah, menyebabkan anak tidak dapat
berkembang secara optimal. Gen dapat dianggap sebagai kemampuan intelektual,
tetapi pengaruh lingkungan akan menentukan dimana letak IQ anak dalam rentang
tersebut (Atkinson, dkk, 1983, h. 135).
3.
Karakteristik Slow Learner
Hasil penelitian Sumantri dan Siti Badriyah (2005: 167) menunjukkan
bahwa karakteristik slow learner di antaranya: (a) kelambanan dalam
proses berfikir, (b) kelemahan dalam menangkap pengertian, (c) kesulitan dalam
mengingat kembali materi yang diberikan, (d) kesulitan dalam konsentrasi, (e)
mengalami kegagalan berulangkali dalam mencapai target pembelajaran standar,
(f) menurunnya minat dan motivasi belajar, (g) perasaan cemas terhadap
penilaian negatif dan penolakan lingkungan, dan (h) memperlihatkan perilaku
yang tidak menentu dan tidak konsisten.
Nani Triani dan Amir (2013: 10) menyebutkan karakteristik anak lamban
belajar dilihat dari beberapa aspek:
Pertama, dari aspek
intelegensi. Intelegensi anak lamban belajar berada di bawah rata-rata anak normal,
yaitu antara 70-90 berdasarkan skala WISC (Wechsler Intelligence Scale for
Children). Biasanya, slow learner mengalami masalah hampir pada
semua mata pelajaran. Slow learner juga sulit memahami hal-hal yang
abstrak, sehingga membutuhkan media konkret untuk membantu pemahaman tentang
suatu hal. Oleh karena itulah, slow learner banyak bergantung pada guru
dan orang tua untuk membantunya belajar (Cece Wijaya dalam Mulyadi, 2010:
124-125)
Kedua, yaitu dilihat dari
aspek bahasa. Slow learner juga memiliki masalah dalam berbahasa. Slow
learner sulit untuk mengungkapkan apa yang dipikirkannya. Slow learner pun
sulit untuk memahami perkataan orang lain ketika slow learner diajak
berbicara. Orang yang mengajaknya bicara harus menggunakan bahasa yang
sederhana, jelas, dan mudah dipahami oleh anak lamban belajar (Nani Triani dan
Amir, 2013: 11)
Ketiga, yaitu dilihat dari
aspek emosi. Slow learner memiliki emosi yang kurang stabil. Slow
learner sangat sensitif, mudah marah meledak-ledak. Ketika ada orang yang
mengejek, slow learner akan tersinggung. Ketika slow learner melakukan
kesalahan, maka slow learner pun akan mudah patah semangat dan minder,
apalagi dengan nilai-nilai buruk yang didapatkannya, maka hal itu akan menurunkan
motivasinya (Nani Triani dan Amir, 2013: 11). Hal ini pun didukung oleh
pendapatAna Lisdiana (2012: 10) yang mengungkapkan bahwa pada umumnya anak
lamban belajar (slow learner) motivasinya rendah. Jeanne Ellis Ormrod
(2008: 91) menambahkan bahwa motivasi yang rendah pada anak yang mengalami
kesulitan belajar dapat disebabkan karena sering berhadapan dengan tugas-tugas
yang sulit.
Hasil penelitian Purwandari (Tin Suharmini, 2001: 6-7) mengungkapkan
ciri-ciri emosi anak lamban belajar sebagai berikut.
a.
Daya konsentrasi rendah
Anak
lamban belajar memiliki daya konsentrasi yang sebentar. Sebagai contoh, anak
lamban belajar memiliki konsentrasi dalam belajar selama +20 menit, setelah itu
anak akan gelisah dan cenderung mengganggu teman-temannya yang sedang belajar.
b.
Mudah lupa dan beralih perhatian
Slow
learner tidak memiliki daya ingat yang lama. Slow learner mudah lupa
akan suatu hal. Perhatiannya pun mudah beralih ketika mendapatkan rangsangan
dari luar.
c.
Eksplosif
Anak
lamban belajar mudah bereaksi terhadap rangsangan tanpa pertimbangan terlebih
dahulu.
Keempat, yaitu dilihat dari
aspek sosial. Slow learner kurang baik dalam hal sosialnya. Ketika
bersama anak seumurannya, slow learner cenderung pasif bahkan menarik
diri. Slow learner lebih senang bermain dengan anak di bawah usianya,
karena slow learner dapat menggunakan bahasa yang sederhana saat
berkomunikasi dan itu membuatnya aman dan gembira (Nani Triani dan Amir, 2013:
12). Ketika berhadapan dengan orang yang lebih dewasa, slow learner memiliki
tingkah laku lekat, bersikap sopan, memiliki prasangka terhadap guru di
sekolah, dan kadang melakukan protes ketika ada yang dinilai kurang
mempedulikannya (Tin Suharmini, 2001: 8).
Kelima, yaitu dilihat dari
aspek moral. Anak lamban belajar tahu adanya aturan yang berlaku tetapi slow
learner tidak paham untuk apa aturan tersebut dibuat. Slow learner pun
terkadang tidak patuh terhadap aturan karena momorinya juga kurang baik,
sehingga slow learner mudah lupa. Oleh karena itu, anak lamban belajar
harus sering diingatkan.
Sangeeta Chauhan (2011: 282-283) mengungkapkan karakteristik slow
learner dalam jurnal internasionalnya sebagai berikut: “Characteristics
of slow learners can be systematically listed out: (1) limited cognitive
capacity, (2) poor memory, (3) distraction and lack of concentration, (4)
inability to express ideas.” . Apabila terjemahkan dalam bahasa Indonesia,
karakteristik slow learner dapat ditulis secara sistematik, yaitu (1) keterbatasan
kapasitas kognitif, (2) kapasitas memori yang rendah, (3) gangguan dan kurang
konsentrasi, dan (4) ketidakmampuan untuk mengeskpresikan ide-ide.
Erman Amti dan Marjohan (1991: 141) juga mengemukakan ciri-ciri anak
lamban, yaitu: (a) keadaan fisik pada umumnya sama dengan murid-murid normal,
(b) kemampuan berpikirnya agak rendah, (c) ingatannya agak lemah dan tidak
tahan lama, (d) banyak yang mengalami putus sekolah, (e) dalam kehidupan di
rumah, murid lamban belajar masih mampu berkomunikasi dan bergaul secara baik
dengan saudara-saudaranya, (f) emosinya kurang terkendali dan sering
mementingkan diri senidiri, (g) murid lamban belajar dapat dilatih beberapa
macam keterampilan yang bersifat produktif.
Peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik slow learner, meliputi:
(a) kondisi fisik seperti anak normal, (b) intelegensi rendah, (c) lamban dalam
proses berpikir, (d) mangalami masalah pada hampir semua bidang, (e) sulit
memahami hal-hal abstrak, (f) sulit mengungkapkan ide, (g) emosi kurang stabil,
(h) daya konsentrasi rendah, (i) minat dan motivasi belajar rendah, (j) mudah
lupa dan beralih perhatian, (k) lebih suka bermain dengan anak di bawah
usianya, (l) tahu aturan tetapi tidak paham untuk apa aturan itu dibuat, dan
(m) bergantung kepada guru dan orang tua dalam membuktikan ilmu pengetahuan.
4.
Masalah
Yang Dihadapi Anak Lamban Belajar
a.
Anak
mengalami perasaan minder, karena kemampuan belajarnya lamban dibandingkan
teman-temannya.
b.
Cenderung
pemalu, menarik diri dari lingkungannya.
c.
Lamban
menerima informasi, karena keterbatasan berbahasa.
d.
Hasil
prestasi belajar kurang optimal sehingga dapat membuat stress karena
ketidakmampuan mencapai harapannya.
e.
Ketidakmampuan
mengikuti pelajaran, dapat membuat anak tinggal kelas.
f.
Mendapat
label yang kurang baik dari teman-temannya.
5.
Cara Menghadapi Anak Lamban Belajar
Siswa lambat
belajar perlu diidentifikasikan secara lebih mendalam dan menyeluruh.
Identifikasi secara mendalam dan menyeluruh akan memungkinkan guru di dalam
menyusun program bantuan dan layanan bimbingan secara tepat sehingga mencapai
hasil yang optimal.
Identifikasi
siswa lambat belajar antara lain meliputi:
a.
Penilaian
pendidikan:
1)
Prestasi
belajar siswa dalam mata pelajaran-pelajaran dasar dan kesulitan-kesulitan yang
dialami.
2)
Tingkat perkembangan
bahasa dan pembicaraan siswa.
3)
Sikap sosial
dan emosial siswa di dalam dan di luar sekolah.
4)
Minat dan
sikap terhadap sekolah.
5)
Riwayat
pendidikan sebelumnya meliputi perubahan-perubahan sekolah dan kehadiran.
6)
Minat dan
latar belakang pengetahuan siswa.
b.
Pemeriksaan
kesehatan yang meliputi keadaan kesehatan pada umumnya penyakit yang pernah di
derita,penglihatan, pendengaran, hidung dan sistem syaraf.
c.
Pemeriksaan
psikologi yang meliputi kualitas berfikir,kekuatan-kekuatan dan
kelemahan-kelemahan intelektual, sikap serta sifat-sifat pribadi lainnya.
d.
Pengungkapan
taraf perkembangan sosial siswa seperti suasana emosional kesulitan-kesulitan
yang dialami yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar siswa.
6.
Penanganan Anak Lamban Belajar
a.
Terapi Bermain
Pada
dasarnya manusia adalah makhluk yang gemar bermain, mereka merasa senang bila
melakukan aktivitas bermain. Terapi bermain adalah salah satu upaya psikoterapi untuk
membantu mengatasi masalah sosial, bahasa atau motorik.
b.
Terapi Perilaku
Diberikan
kepada anak dengan tujuan melatih perilaku baru dengan mengubah lingkungan atau
dengan proses kognitif dan emosional anak,. Misalnya, kebiasaan mencorat-coret
tembok menjadi kebiasaan menggambar di buku.
c.
Terapi Keluarga
Terapi
keluarga adalah terapi yang diterapkan untuk seluruh anggota keluarga dalam
rangka membantu anak lamban belajar. Banyak masalah anak dapat diatasi dengan
cepat karena bantuan atau dukungan keluarganya.
d.
Terapi Lain
Terapi lain
seperti okupasi terapi, terapi renang dan lain-lain sesuai masalah yang
dihadapi oleh anak, didahului konsultasi dengan para ahli.
7.
Teknik Bimbingan
yang dapat diterapkan pada anak lamban belajar
Menurut
Hallen, A (40:2005) mengemukakan Program Layanan Bimbingan Konseling yang
dikembangkan bagi siswa lambat belajar mengacu pada keadaan individu sebagai
manusia seutuhnya sehingga menyentuh semua dimensi perkembangan kepribadian
secara utuh. Teknik yang dimaksudkan untuk menangani siswa tersebut akan
mengarah pada unsur-unsur yang berhubungan dengan:
a.
Pengembangan ranah kognitif atau intelektual
Pada
pengembangan ini guru diharapkan menyediakan rentangan pengalaman belajar yang
luas serta dapat diamati atau nyata. Pengelolahan bahan dan tugas ajar secara
khusus yang di dasarkan pada kurikulum yang ada merupakan hal yang harus
dilakukan guru dalam memberikan pelayanan optimal bagi siswa lamban
belajar. ( Menurut Hallen, A 41:2005).
b.
Pengembangan ranah afektif
Pembimbing
diharapkan memahami pikiran dan harapan anak yang ada pada dirinya serta
kemungkinan pemenuhannya di dalam sikap kehidupan berkelompok. (Menurut
Hallen,A 42:2005).
c.
Pengembangan ranah fisik
Pembimbing
diharapkan memberikan layanan yang dapat memberikan kemungkinan siswa
memperoleh pengalaman memadukan pola perkembangan berfikir dengan perkembangannya
dan memberikan peran-peran yang sesuai di dalam kelompoknya. (Menurut Hallen, A
43:2005).
d.
Pengembangan ranah intuitif
Fungsi
intuitif merupakan fungsi yang terlibat di dalam pemunculan wawasan dan
tindakan kreatif. Mengingat fungsinya itu, maka layanan bagi siswa yang lambat
belajar perlu memperdulikan pengembangan pengalaman yang mendorong dia untuk
berimajenasi dan berkreasi (dalam tingkat yang sederhana). (Menurut Hallen, A
44:2005).
e.
Pengembangan ranah masyarakat
Pemberian
layanan dapat dilakukan dengan membantu siswa memperoleh pengalaman
mengembangkan diri menjadi anggota kelompok, serta mampu berpartisipasi dalam
proses kelompok, memperluas perasaan keanggotaan masyarakat. Memperluas
identifikasi diri dari masyarakat terbatas ke arah identifikasi terhadap
masyarakat luas. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan merancang
kegiatan-kegiatan kelompok khusus. (Menurut Hallen, A 45:2005).
Selain itu,
Menurut Heru Mugiarso (58:2006) ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh
seorang konselor atau guru antara lain:
a.
Bimbingan bagi anak dengan masalah
konsentrasi
1)
Mengubah
cara mengajar dan jumlah materi yang akan diajarkan.
Siswa yang
mengalami masalah perhatian dapat ketinggalan jika materi yang diberikan
terlalu cepat atau jika beban menumpuk dengan materi yang kompleks. Oleh akrena
itu, akan berguna bagi mereka untuk:
a.
Memperlambat
laju presentasi materi
b.
Menjaga agar
siswa tetap terlibat dengan memberi pertanyaan pada saat materi diberikan.
c.
Gunakan
perangkat visual seperti membuat bagan/ skema garis besar materi untuk
memberikan gambaran pada siswa mengenai langkah-langkah atau bagian-bagian yang
diajarkan.
2)
Adakan
pertemuan dengan siswa.
Siswa
mungkin tidak menyadari peranan perhatian dalam proses pengajaran. Mereka juga
tidak menyadari kalau perhatian merupakan bidang kesulitan tertentu bagi mereka.
Dalam pertemuan ini kita dapat memberikan penjelasan dengan cara yang tanpa
memberikan hukuman dan tanpa ancaman akan sangat berguna bagi siswa.
3)
Bimbing
siswa lebih dekat ke proses pengajaran.
Karena tanpa
disadari kita telah mengalihkan perhatian kita dari siswa. Dengan membawa
mereka dekat dengan kita secara fisik secara rafia akan membawa si anak lebih
dekat kepada proses pengajaran.
4)
Berikan
dorongan secara langsung dan berulang-ulang.
Biasakan
siswa tahu kalau anda melihatnya ketika sedang memperhatikan. Menggunakan
kontak mata ketika pembelajaran berlangsung itu sangat penting. Cobalah
berikan penghargaan atas kehadirannya. Bisa juga dengan penghargaan verbal yang
dilakukan dengan tenang, dan lembut.
5)
Utamakan
ketekunan perhatian daripada kecepatan menyelesaikan tugas.
Siswa
mungkin merasa kecil hati dan tidak diperhatikan bila mereka dihukum karena
tidak menyelesaikan tugas secepat orang lain. Membuat penyesuaian dan jumlah
tugas yang harus diselesaikan maupun waktu yang disediakan untuk menyelesaikan
tugas berdasar kemampuan individu mengkin akan sangat membantu dan mendorong
bagi sebagaian siswa.
6)
Ajarkan
self-monitoring of attention.
Melatih
siswa untuk memonitor perhatian mereka sendiri sewaktu-waktu dengan menggunakan
timer atau alarm jam. Mengajarkan mereka untuk mencatat berbagai interval
apakah mereka memberikan perhatian atau tidak pada saat pengajaran. Catatan ini
akan membantu menciptakan perhatian yang lebih besar bagi kebutuhan dalam memfokuskan
perhatian juga bisa berguna dalam strategi untuk memperkokoh keterampilan
memperhatikan “attention skill”.
b.
Bimbingan bagi anak dengan masalah
daya ingat
1)
Ajarkan
menggunakan highlighting atau menggaris bawahi dengan penanda, untuk membantu memancing
ingatan. Mereka harus diberi tahu cara memilih tajuk bacaan, kalimat dan
istilah kunci untuk diberi garis bawah atau tanda dengan highlighter. Kemudian
mereview dari bacaan yang sudah digaris bawahi tadi.
2)
Perbolehkan
menggunakan alat bantu memori (memory aid). Yang mana alat-alat itu bisa
berfungsi bagi mereka sebagai alat pengingat dan bisa juga sebagai alat
pengajaran.
3)
Biarkan
siswa yang mengalami masalah sulit mengingat untuk mengambil tahapan yang lebih
kecil dalam pengajaran. Misalnya dengan membagi tugas-tugas kelas dan tugas
rumah atau dengan memberikan tes kemampuan penguasaan lebih sering.
4)
Ajarkan
siswa untuk berlatih mengulang dan mengingat. Misalnya dengan memberikan tes
langsung setelah pelajaran disampaikan.
c.
Bimbingan bagi anak dengan masalah
kognisi
1)
Berikan
materi yang dipelajari dalam konteks “high meaning”.
Ini berguna
untuk untuk mengetahui apakan siswa memahami arti bacaan mereka atau arti suatu
pertanyaan mengenai materi baru. Pengertian dapat diperkokoh dengan menggunakan
contoh, analogi atau kontras.
2)
Menunda
ujian akhir dan penilaian.
Perlu
memberikan umpan balik dan dorongan yang lebih sering bagi siswa berkesulitan
belajar. Evaluai terhadap tugas mereka sebagai tambahan pengajaran akan sangat
membantu. Dengan kata lain, suatu kesadaran yang konstan mengenai siswa ini
akan membentuk kepercayaan diri dan kemampuan mereka. Bagi sebagian siswa,
menunda ujian akhir mereka sampai siswa menguasai sepenuhnya materi yang
dipelajari, mungkin merupakan cara terbaik.
3)
Tempatkan
siswa dalam konteks pembelajaran yang “tidak pernah gagal”.
Siswa lamban
belajar seringkali mempunyai sejarah kegagalan disekolah. Biasanya mereka
memiliki perasaan akan gagal (sense of failing) dalam berbagai hal yang mereka
lakukan. Memutuskan rantai kegagalan dan menciptakan cipta diri (senseof self)
baru bagi siswa ini merupakan sesuatu yang paling penting bagi guru untuk
melakukannya. Pada setiap tugas atau kemampuan siswa harus ditarik kembali
kepada masalah dimana tugas dapat dilakukan tanpa kegagalan.
d.
Bimbingan bagi anak dengan masalah
social dan Emosional
1)
Membuat
sistem perhargaan kelas yang dapat diterima dan dapat diakses.
Siswa
yang berkesulitan belajar perlu memahami system penghargaan ini dikelas
dan merasa ikut serta di dalamnya. Jangan sampai siswa yang berkesulitan
melajar merasa “out laws”, mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk
mendapatkan penghargaan yang diterima siswa lain. Untuk memahami bagaimana
mereka bisa mendapatkan penghargaan yang baik, para siswa disini perlu diberi
pemahaman tentang bagaimana cara mendapatkan keuntungan sosial dari sikap
positif dan hubungan sosial yang baik dikela, beberapa siswa mungkin ingin
pembuktian langsung dikelas.
2)
Membentuk
kesadaran tentang diri dan orang lain.
Sebagian
siswa yang berkesulitan belajar tidak memilki kesadaran yang jelas pada
sikapnya sendiri serta dampaknya pada orang lain. Membantu siswa ini menjadi
lebih mengenal sikap mereka dan dampaknya pada orang lain merupakan kesempatan
yang berarti bagi perkembangan sosial dan emosional. Berbicara terbuka dan
penuh perhatian kepada siswa ini mengenai sikapnya juga dapat menjadi langkah
penting dalam membentuk hubungan yang saling percaya di antara mereka.
3)
Mengajarkan
sikap positif.
Ketika siswa
lamban belajar menjadi lebih sadar terhadap sikapnya dan mendapat pemahaman
yang lebih baik atas interaksi dengan orang lain, mereka akan merespon dengan
baik intruksi-intruksi tentang cara membentuk hubungan yang baik dan senseof
self (citra diri) yang lebih positif.
4)
Minta
bantuan
Jika sikap
seorang siswa lamban belajar sangat tidak layak atau sikap negatifnya tetap ada
ketika semua cara telah dicoba, jangan ragu minta bantuan. Cari bantuan pada
teman sejawat disekolah yang mungkin dapat memberikan bantuan dalam menjelaskan
masalah-masalah sosial dan emosional, serta mencari solusi mengenai kesulitan
tersebut. Pertolongan ini bisa datang dari psikolog, konselor, orang tua, guru,
dan kepala sekolah. Yang terpenting seorang pendidik memahami bahwa minta
bantuan bukan tanda kelemahan atau ketidakmampuan.
8.
Peran Guru dalam Rangka Menangai
keterlamatan belajar siswa
Menurut
Mulyati (2007:23) peran guru dalam rangka menangani keterlambatan belajar siswa
adalah:
a.
Pahami bahwa
anak membutuhkan lebih banyak pengulangan, 3 sampai 5 kali, untuk memahami
suatu materi daripada anak lain dengan kemampuan rata-rata. Maka, dibutuhkan
penguatan kembali melalui aktivitas praktek dan yang familiar, yang dapat
membantu proses generalisasi.
b.
Anak
slow-learner yang tidak berprestasi dalam akademik dasar dapat memperoleh
manfaat melalui kegiatan tutorial di sekolah atau privat. Tujuan tutorial
bukanlah untuk menaikkan prestasinya, tetapi membantunya untuk optimis terhadap
kemampuannya dan menghadapkannya pada harapan yang realistik dan dapat
dicapainya.
c.
Berusahalah
untuk membantu anak membangun pemahaman dasar mengenai konsep baru daripada
menuntut mereka menghafal materi dan fakta yang tidak berarti bagi mereka.
d.
Gunakan
demonstrasi dan petunjuk visual sebanyak mungkin. Jangan membingungkan mereka
dengan terlalu banyak verbalisasi. Pendekatan multisensori juga dapat sangat
membantu.
e.
Jangan
memaksa anak bersaing dengan anak dengan kemampuan yang lebih tinggi. Adakan
sedikit persaingan dalam program akademik yang tidak akan menyebabkan sikap
negatif dan pemberontakan terhadap proses belajar. Belajar dengan kerjasama
dapat mengoptimalkan pembelajaran, baik bagi anak yang berprestasi atau tidak,
ketika pemebelajaran tersebut mendukung interaksi sosial yang tepat dalam
kelompok yang heterogen.
f.
Konsep yang
sederhana yang diberikan pada anak pada permulaan unit instruksial dapat
membantu penguasaan materi selanjutnya. Maka, dibutuhkan beberapa modifikasi di
kelas.
g.
Anak
sebaiknya diberi tugas, terutama dalam pelajaran sosial dan ilmu alam, yang
terstruktur dan konkret. Proyek-proyek besar yang membutuhkan matangnya
kemampuan organisasional dan kemampuan konseptual sebaiknya dikurangi, atau
secara substansial dimodifikasi, disesuaikan dengan kemampuannya. Dalam kerja
kelompok, slow-learner dapat ditugaskan untuk bertanggung jawab pada bagian
yang konkret, sedang anak lain dapat mengambil tanggung jawab pada komponen
yang lebih abstrak.
h.
Tekankan
hal-hal setelah belajar, berikan insentif dan motivasi yang bervariasi.
i.
Berikan
banyak kesempatan bagi anak untuk bereksperimen dan mempraktikkan konsep baru
dengan materi yang konkret atau situasi yang menstimulasi.
j.
Pada awal
setiap unit, kenalkan anak dengan materi-materi yang familiar.
k.
Sederhanakan
petunjuk dan yakin bahwa petunjuk itu dapat dimengerti.
l.
Penting bagi
guru untuk mengetahui gaya belajar masing-masing anak, ada yang mengandalkan
kemampuan visual, auditori atau kinestetik. Pengetahuan ini memudahkan
penerapan metode belajar yang tepat pada mereka.
B.
Motivasi Belajar
1.
Pengertian
Motivasi Belajar
Hamzah
B. Uno (2010: 33) mengungkapkan bahwa motivasi belajar adalah dorongan internal
dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan
tingkah laku pada umumnya, dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung.
Sementara itu, Abdorrakhman Gintings (2008: 86) menyebutkan bahwa motivasi
belajar adalah sesuatu yang menggerakkan atau mendorong siswa untuk belajar
atau menguasai materi pelajaran yang diikutinya.
Sardiman
(2007: 75) mengungkapkan bahwa dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan
sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan
kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang
memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh
siswa itu dapat tercapai. Hal senada diungkapkan oleh Faturrohman dan
Sulistyorini (2012: 143) bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya
penggerak yang ada dalam diri individu (siswa) yang menimbulkan kegiatan
belajar dan memberikan arah kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan yang
dikehendaki oleh siswa yang bersangkutan sebagai subjek belajar.
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah
keseluruhan daya penggerak, baik internal maupun eksternal pada diri siswa yang
mampu menggerakkan, memberikan arah, dan menjaga kelangsungan kegiatan belajar
siswa untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya.
2.
Jenis-jenis
Motivasi Belajar
Berdasarkan
sumbernya, motivasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan
motivasi ekstrinsik. Baharuddin dan Esa Nur (2010: 23) mengungkapkan bahwa
motivasi intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu
dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Adapun motivasi ekstrinsik
adalah faktor yang datang dari luar diri individu, tetapi memberi pengaruh terhadap
kemauan untuk belajar.
John
W. Santrock (2009: 204) mengungkapkan bahwa motivasi ekstrinsik adalah
melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (sebuah cara untuk
mencapai suatu tujuan). Adapun motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk
melakukan sesuatu demi hal itu sendiri (sebuah tujuan itu sendiri). Lebih
lanjut, Muhibbin Syah (2011: 134) mengungkapkan bahwa motivasi intrinsik adalah
hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri yang dapat
mendorongnya melakukan tindakan belajar, sedangkan yang termasuk motivasi
ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar diri siswa yang juga
mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.
Nana
Syaodih (2004: 63-64) menggolongkan motivasi menjadi tiga jenis. Ketiga jenis
motivasi itu adalah sebagai berikut:
a.
Motivasi
takut atau fear motivation. Motivasi ini terlihat ketika individu melakukan
suatu perbuatan karena takut.
b.
Motivasi
insentif atau incentive motivation. Motivasi ini terlihat saat individu
melakukan sesuatu perbuatan untuk mendapatkan suatu insentif. Bentuk insentif
di antaranya: mendapatkan hadiah, penghargaan, piagam, dan lain-lain.
c.
Sikap
atau attitude motivation atau self motivation. Sikap merupakan suatu motivasi
yang menunjukkan ketertarikan atau ketidaktertarikan seseorang pada suatu
objek.
Nana
Syaodih (2004: 64) menyebutkan bahwa motivasi jenis ketiga termasuk motivasi
intrinsik, muncul dari dalam diri individu, sedangkan jenis pertama dan kedua
lebih bersifat ekstrinsik, yaitu datang dari luar individu.
Abdorrakhman
Gintings (2008: 88-89) juga menyebutkan dua jenis motivasi, yaitu motivasi
intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi untuk belajar yang
berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah
motivasi untuk belajar yang berasal dari luar diri siswa itu sendiri.
Berdasarkan
berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa ada dua jenis motivasi,
yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah
motivasi yang bersumber dari dalam siswa yang mendorongnya untuk belajar,
sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang bersumber dari luar diri
siswa yang mempengaruhi tingkah lakunya dalam belajar.
Abdorrakhman
Gintings (2008: 88-89) mengungkapkan bahwa sifat motivasi intrinsik adalah
bertahan lebih lama daripada motivasi ekstrinsik dan tidak selalu timbul dari
dalam diri seseorang, melainkan dapat timbul dari motivasi ekstrinsik yang
terus menerus didapatkan. Sifat motivasi ekstrinsik adalah mudah hilang dan
apabila diberikan terus menerus akan menimbulkan motivasi intrinsik dalam diri
seseorang.
3.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Faktor
yang mempengaruhi motivasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu faktor intrinsik
dan faktor ekstrinsik. Amir Daien Indrakusuma (Faturrohman dan Sulistyorini,
2012: 153-154) mengungkapkan faktor-faktor ekstrinsik yang mempengaruhi
motivasi adalah ganjaran, hukuman, dan persaingan atau kompetisi.
Adapun
faktor-faktor intrinsik yang mempengaruhi motivasi adalah sebagai berikut:
a.
Adanya kebutuhan
Semua
tindakan manusia dilakukan berdasarkan adanya kebutuhan. Hal itu diungkapkan
oleh Fathurrohman dan Sulistyorini (2012: 153) yang menyebutkan bahwa pada
hakikatnya semua tindakan yang dilakukan manusia adalah untuk memenuhi
kebutuhannya. Lebih lanjut, Melendy (Ahmed Al-Ghamdi, 2014: 2) mengungkapkan
bahwa motivasi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang dimulai dari adanya
kebutuhan dan mengarahkan tindakan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Salah
satu kebutuhan yang tak bisa dihindari oleh anak didik adalah keinginannya
untuk menguasai ilmu pengetahuan (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 120- 121). Oleh
karena itulah anak didik belajar. Anak didik pun giat belajar untuk memenuhi
kebutuhannya demi memuaskan rasa ingin tahunya terhadap sesuatu.
b.
Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri
Siswa
yang mengetahui kemajuan diri, baik itu tentang suatu prestasi atau kemunduran
diri, maka hal ini dapat menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi siswa. Siswa
yang memperoleh prestasi baik akan termotivasi untuk semangat belajar agar prestasinya terus
meningkat, siswa yang prestasinya belum baik akan termotivasi untuk mencetak
prestasi yang lebih baik.
c.
Adanya aspirasi atau cita-cita
Setiap
orang memiliki cita-cita. Cita-cita inilah yang akan mendorong individu untuk
meraihnya dengan bertindak.
Arden
N. Frandsen (Baharuddin dan Esa Nur, 2010: 23) menyebutkan faktor-faktor
motivasi intrinsik dalam belajar, meliputi: (1) dorongan ingin tahu dan ingin
menyelidiki dunia yang lebih luas, (2) adanya sifat positif dan kreatif yang
ada pada manusia dan keinginan untuk maju, (3) adanya keinginan untuk mencapai
prestasi, dan (4) adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang
berguna bagi dirinya. Motivasi ekstrinsik dapat berupa pujian, peraturan, tata
tertib, teladan guru atau orang tua, dan lain-lain (Baharuddin dan Esa Nur,
2010: 23).
Dimyati
dan Mudjiono (2006: 97-100) mengungkapkan beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi motivasi belajar siswa sebagai berikut:
a.
Cita-cita atau aspirasi siswa
Cita-cita
akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun ekstrinsik, sebab seseorang
akan melakukan sesuatu agar cita-citanya dapat tercapai. Hal itu diungkapkan
oleh Dimyati Zuhdi dan Mudjiono (2006: 97-98) bahwa “cita-cita siswa untuk
„menjadi seseorang‟ akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku
belajar.” Lebih lanjut, Eveline dan Hartati (2011: 54) mengungkapkan bahwa
“cita-cita dalam belajar merupakan tujuan hidup siswa, hal ini merupakan
pendorong bagi seluruh kegiatan dan pendorong bagi belajarnya.”. Hasil
penelitian Peter Sullivan dan Andrea McDonough (2007: 704) menunjukkan bahwa
siswa yang memiliki cita-cita tentang karir di masa depan akan termotivasi
untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran, sebaliknya siswa yang tidak tahu
cita-citanya, tidak memberikan pengaruh positif terhadap motivasinya.
b.
Kemampuan membaca
Kegiatan
belajar tidak terlepas dari membaca, seperti yang diungkapkan oleh Syaiful
Bahri Djamarah (2002: 120) bahwa “kegiatan belajar selalu berhubungan dengan
membaca.”. Kemampuan membaca akan menunjang siswa dalam menguasai ilmu
pengetahuan. Ketika seorang siswa yang mampu membaca melihat suatu bacaan, maka
siswa tersebut akan terdorong untuk membacanya tanpa disuruh oleh orang lain.
Seorang siswa yang belum bisa membaca dengan lancar dan mengalami kesulitan
mengucapkan huruf tertentu, akan terdorong untuk berlatih agar mampu mengatasi
kesulitan yang dialami, seperti yang diungkapkan oleh Morgan (Sardiman, 2007:
80) bahwa “kesulitan mampu mendorong seseorang untuk mengatasinya.”. Latihan
yang dilakukan terus menerus menyebabkan siswa dapat berhasil membaca dengan
lancar. Keberhasilan siswa dalam membaca mampu memuaskan dan menyenangkan
hatinya (Dimyati Zuhdi dan Mudjiono, 2006: 98).
c.
Kondisi siswa
Kondisi
siswa meliputi kondisi jasmani dan rohani. Kondisi jasmani contohnya berkaitan
dengan kesehatan. Seorang siswa yang sehat akan memiliki motivasi belajar yang
lebih baik bila dibandingkan dengan siswa yang sedang sakit. Kondisi rohani
berkaitan dengan suasana hati. Siswa yang sedang sedih akan enggan untuk
belajar, sebaliknya siswa yang sedang bahagia akan bersemangat untuk belajar.
d.
Kondisi lingkungan siswa
Kondisi
lingkungan siswa, meliputi lingkungan sekolah, pergaulan sebaya, dan lingkungan
tempat tinggal. Lingkungan pertama, yaitu lingkungan sekolah. Nana Syaodih
Sukmadinata (2004: 164-165) mengungkapkan bahwa sekolah yang kaya dengan
aktivitas belajar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, terkelola dengan
baik, diliputi suasana akademis yang wajar, akan sangat mendorong semangat
belajar para siswanya. Sementara itu, Dimyati Zuhdi dan Mudjiono (2006: 249)
menambahkan bahwa “lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan
kondisi pembelajaran yang baik”.
Pergaulan
teman sebaya juga mempengaruhi motivasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan
pendapat Aunurrahman (2010: 194) bahwa pengaruh teman sebaya mampu memberikan
motivasi kepada siswa untuk belajar. Slameto (2003: 66-67) menambahkan bahwa
siswa yang kurang disenangi teman-temannya akan mengakibatkan rasa rendah diri,
mengalami tekanan-tekanan batin, diasingkan, dan bahkan menjadi malas untuk
masuk sekolah dengan alasan-alasan tertentu.
Pergaulan
teman sebaya yang kurang baik juga dapat memotivasi siswa untuk berusaha agar
dapat diterima oleh siswa lainnya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Maslow
(Nana Syaodih Sukmadinata, 2004: 68) bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang
dalam kehidupannya selalu berinteraksi dengan orang lain, ingin mendapatkan
penerimaan dan penghargaan dari yang lainnya.
Terkait
dengan faktor keluarga, meliputi: keadaan rumah dan ruangan tempat belajar,
sarana dan prasarana belajar yang ada, suasana dalam rumah apakah tenang atau
banyak kegaduhan, suasana lingkungan di sekitar rumah, keutuhan keluarga, iklim
psikologis, iklim belajar dan hubungan antar anggota keluarga (Nana Syaodih
Sukmadinata, 2004: 163-164).
Abu
Ahmadi dan Widodo Supriyadi (2004:88) mengungkapkan bahwa keadaan rumah yang
ramai atau ribut, kebisingan dari suarasuara anggota keluarga, televisi, atau
radio akan mengganggu suasana belajar anak. Pendapat yang hampir sama
diungkapkan oleh Slameto (2003: 63) bahwa suasana rumah yang gaduh/ramai dan
semrawut tidak dapat memberi ketenangan kepada anak yang belajar. Suasana
tersebut dapat terjadi pada keluarga yang besar yang terlalu banyak
penghuninya, rumah yang bising dengan suara radio, tape recorder, atau TV pada
waktu belajar, akan mengganggu konsentrasi anak dalam belajar. Agar anak dapat
belajar dengan baik, perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tentram.
Fasilitas
belajar juga mempengaruhi motivasi belajar. Hal itu diungkapkan oleh Abu Ahmadi
dan Widodo Supriyadi (2004: 88) bahwa “fasilitas belajar anak seperti meja
belajar dan peralatan seperti pensil, penghapus, tinta, penggaris, buku tulis,
buku pelajaran, jangka dan lain-lain akan membentuk kelancaran dalam belajar,
dan kurangnya alat-alat itu akan menghambat kemajuan belajar anak.” Slameto
(2003: 63) menambahkan bahwa anak yang belajar membutuhkan fasilitas belajar,
seperti: ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis-menulis, buku-buku
dan lain-lain.
Nana
Syaodih Sukmadinata (2004: 164) menambahkan bahwa iklim belajar yang baik,
seperti keluarga yang anggota-anggotanya gemar belajar dan membaca akan
memberikan dukungan yang positif terhadap perkembangan belajar, sebaliknya
keluarga yang tidak senang belajar dan membaca tidak akan mendorong
anak-anaknya untuk senang belajar dan membaca. Lebih lanjut, Eveline dan
Hartati (2011: 55) mengungkapkan bahwa lingkungan yang tidak menunjukkan kebiasaan
belajar dan mendukung kegiatan belajar akan berpengaruh terhadap rendahnya
motivasi belajar”.
e.
Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
Siswa
mengalami perubahan-perubahan dalam hal perasaan, perhatian, kemauan, ingatan,
dan pikiran. Semua itu mempengaruhi motivasi belajar siswa. Eveline dan Hartini
(2011: 55) mengungkapkan bahwa sejauh mana upaya memotivasi itu dilakukan,
bagaimana juga dengan bahan pelajaran, alat bantu belajar, suasana belajar, dan
sebagainya dapat mendinamiskan proses pembelajaran.
f.
Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Upaya
guru dalam membelajarkan siswa dapat terjadi di sekolah maupun di luar sekolah.
Adapun upaya guru dalam membelajarkan siswa di sekolah, yaitu: (1)
menyelenggarakan tertib belajar di sekolah, (2) membina disiplin belajar dalam
tiap kesempatan, (3) membina belajar tertib pergaulan, (4) membina belajar
tertib lingkungan sekolah, (5) pemahaman tentang diri siswa dalam rangka
kewajiban tertib belajar, (6) pemanfaatan penguatan berupa hadiah, kritik, hukuman
secara tepat guna, dan (7) mendidik cinta belajar. Adapun upaya guru
membelajarkan siswa di luar sekolah adalah kerja sama dengan keluarga, lembaga
agama, pramuka, dan pusat pendidikan lainnya dalam upaya mendidikkan belajar
tertib hidup (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 100-101).
Upaya-upaya
guru dalam membelajarkan siswa berdasarkan pendapat Dimyati dan Mudjiono masih
terlalu umum. Berikut ini adalah pendapat dari Sardiman (2006: 92-95)
mengungkapkan bentukbentuk dan cara-cara yang dapat digunakan guru dalam
kegiatan belajar di sekolah dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa
adalah sebagai berikut.
1)
Memberi
angka/nilai
Syaiful
Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002: 168) mengungkapkan bahwa nilai merupakan
motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada siswa untuk mempertahankan
atau lebih meningkatkan prestasi belajarnya. Pendapat yang hampir sama
diungkapkan oleh Sardiman (2007: 93) bahwa nilai yang baik itu bagi para siswa
merupakan motivasi yang sangat kuat, tetapi angka bukanlah hasil belajar
sejati. Oleh karena itu, guru harus memberikan angka-angka dengan dikaitkan
terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam setiap pengetahuan, sehingga
pengetahuan itu menjadi bermakna.
2)
Hadiah
Pemberian hadiah tidak boleh berlebihan
Hadiah
yang diberikan harus disesuaikan dengan usaha siswa dalam belajar.
3)
Saingan/kompetisi
Ada kalanya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersaing atau
berkompetisi. Saingan atau kompetisi dapat digunakan guru untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa. Persaingan dapat dilakukan secara individual maupun
secara kelompok.
4)
Ego-involvement
Ego involvement adalah cara guru untuk menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar
merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja
keras dengan mempertaruhkan harga dirinya. Dengan demikian, seorang siswa akan
termotivasi untuk mencapai prestasi yang baik untuk menjaga harga dirinya.
5)
Memberi
ulangan Siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Hal
tersebut menunjukkan bahwa pemberian ulangan dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa.
6)
Mengetahui
hasil Siswa yang mengetahui hasil belajarnya akan terdorong untuk giat belajar,
apalagi ketika siswa mengetahui adanya kemajuan pada dirinya, maka siswa akan
berusaha mempertahankan nilainya, sebaliknya ketika siswa mengetahui hasilnya
kurang memuaskan atau nilainya rendah, maka siswa akan termotivasi belajar agar
hasil belajarnya dapat memuaskan.
7)
Pujian
Pujian merupakan salah satu reinforcement positif. Pemberian pujian pun harus
tepat, agar dapat memupuk suasana yang menyenangkan dan meningkatkan motivasi
belajar siswa, sekaligus membangkitkan harga diri siswa.
8)
Hukuman
Ada kalanya guru memberikan hukuman dalam proses pembelajaran. Hukuman yang
diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Syaiful Bahri
Djamarah dan Aswan Zain (2002: 176) menyebutkan bentuk-bentuk hukuman yang
mendidik, seperti: ketika ada kesalahan anak didik karena melanggar disiplin
dapat diberikan hukuman berupa sanksi menyapu lantai, mencatat bahan pelajaran
yang ketinggalan, anak didik yang membuat keributan dapat diberikan sanksi
untuk menjelaskan kembali bahan pelajaran yang baru saja dijelaskan oleh guru.
9)
Hasrat
untuk belajar Hasrat untuk belajar memiliki arti adanya kesengajaan, maksud
siswa untuk belajar. Hasrat untuk belajar berarti pada siswa itu memang ada
motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
Guru harus mempertahankan hasrat belajar siswa. Jangan sampai metode mengajar
guru justru akan menghilangkan hasrat untuk belajar siswanya.
10)
Minat
Proses belajar akan berjalan lancar jika disertai minat. Oleh karena itu, guru
hendaknya menciptakan pembelajaran yang menggugah minat belajar siswa, misalnya
dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik. Penggunaan media
pembelajaran selain menggugah minat belajar, juga dapat meningkatkan kegiatan
belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana dan Rivai (Azhar Arsyad,
2011: 25) bahwa salah satu manfaat media pembelajaran adalah siswa dapat lebih
banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru,
tetapi juga aktivitas lain, seperti mengamati, melakukan, mendemostrasikan,
memerankan, dan lain-lain. Lebih lanjut, Arief Sardiman, dkk. (2009: 17)
mengemukakan bahwa media pendidikan berguna untuk menimbulkan kegairahan
belajar, memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan
lingkungan dan kenyataan, serta memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri
menurut kemampuan dan minatnya.
11)
Tujuan
yang diakui Tujuan pembelajaran hendaknya disampaikan kepada siswa. Tujuan yang
diakui dan diterima siswa akan menjadi alat motivasi yang penting. Siswa yang
paham dengan tujuan pembelajaran akan menjadi tahu pentingnya belajar, sehingga
akan timbul gairah untuk terus belajar.
Nana Syaodih (2004: 71-72) juga
mengungkapkan beberapa usaha yang dapat dilakukan guru di sekolah sebagai
berikut:
1)
Menjelaskan
manfaat dan tujuan dari pelajaran yang diberikan
Penting
bagi siswa untuk memahami manfaat dan tujuan pelajaran yang akan diberikan oleh
guru. Setelah memahami manfaat dan tujuan pelajaran, maka siswa akan merasa
butuh untuk mempelajari materi tersebut. Hal tersebut diungkapkan oleh Nana
Syaodih Sukmadinata (2004: 71) bahwa tujuan yang jelas dan manfaat yang
betul-betul dirasakan oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar. Wiliam
James (1998: 2) mengungkapkan bahwa penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran
yang terdiri dari penyampaian materi yang akan dipelajari dan kegiatan apa saja
yang dapat dilakukan siswa dapat memotivasi siswa untuk berpartisipasi dalam
proses pembelajaran. Slavin juga mengungkapkan (2009: 127) bahwa guru dapat
memotivasi siswa dalam belajar dengan cara menjelaskan manfaat materi pelajaran
untuk kehidupan sehari-hari. Karwadi (2004: 46) menambahkan bahwa guru dapat
menyampaikan arti penting materi pelajaran yang akan dipelajari siswa pada saat
memberikan apersepsi untuk memotivasi siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran.
2)
Memilih
materi atau bahan pelajaran yang betul-betul dibutuhkan oleh siswa
Materi
atau bahan pelajaran yang betul-betul dibutuhkan oleh siswa akan lebih
bermakna. Nantinya, materi itu tidak hanya diingat atau dihafalkan saja,
melainkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari siswa, namun
umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas melihat siswa sebagai individu dengan
kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan
pengetahuannya. Hal itu menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran cenderung
mengabaikan perbedaan individual. (Dimyati Zuhdi dan Mudjiono, 2006: 49).
3)
Memilih
cara penyajian yang bervariasi, sesuai dengan kemampuan siswa dan banyak
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan berpartisipasi.
Cara
penyajian materi yang bervariasi akan menarik perhatian siswa dan dapat
mengatasi perbedaan individual siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat
Dimyati Zuhdi dan Mudjiono (2006: 49-50) mengungkapkan bahwa pembelajaran yang
bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan
beberapa cara, antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar
yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani.
Slameto (2003: 92) menambahkan bahwa variasi metode mengakibatkan penyajian
pelajaran lebih menarik perhatian siswa, mudah diterima siswa, dan kelas
menjadi hidup, sehingga setiap siswa akan berpartisipasi dalam proses
pembelajaran.
4)
Memberikan
sasaran dan kegiatan-kegiatan antara Sasaran akhir dari kegiatan belajar siswa
adalah lulus ujian akhir.
Menempuh
ujian akhir bagi siswa yang baru masuk merupakan kegiatan yang masih terlalu
lama, oleh karena itu perlu diciptakan sasaran dan kegiatan antara, seperti:
ujian semester, ujian tengah semester, atau ulangan harian. Adanya
ulangan-ulangan itu akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.
5)
Berikan
kesempatan kepada siswa untuk sukses
Sukses
yang dicapai oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar, sebaliknya
kegagalan yang beruntun dapat menghilangkan motivasi. Guru hendaknya menyiapkan
dan menyampaikan pelajaran, memberikan tugas dan latihan, bimbingan dsb.,
disesuaikan dengan kemampuan dan tahap perkembangan siswa (Nana Syaodih
Sukmadinata, 2004: 214). Lebih lanjut, Munawir Yusuf (2005: 125) mengungkapkan
bahwa anak yang mengalami kesulitan belajar dan berada di kelas reguler akan
sering gagal karena sulitnya bahan pelajaran dan tugas-tugas. Oleh karena itu,
hendaknya tugas dan latihan yang diberikan itu pun lebih sederhana atau lebih
mudah, supaya siswa dapat merasakan kesuksesan.
Mengenai
kesuksesan siswa dalam belajar, ada perbedaan pendapat dari para ahli. Nana Syaodih
Sukmadinata (2004: 71) mengungkapkan bahwa “sukses yang dicapai oleh siswa akan
membangkitkan motivasi belajar, sebaliknya kegagalan yang beruntun dapat
menghilangkan motivasi.” Pendapat yang hampir sama diungkapkan oleh Yulinda
Erma Suryani (2010: 37) bahwa kegagalan berulang dapat mengurangi minat untuk
belajar dan umumnya merendahkan motivasi belajar. Lain halnya dengan Munawir
Yusuf (2005: 25) yang mengungkapkan bahwa “kegagalan selain dapat memotivasi
anak untuk bangkit, sekaligus juga dapat menjadi pengalaman berharga yang
mengajarkannya untuk menyelesaikan sendiri masalahmasalahnya yang berhubungan
dengan kegagalan tersebut.”.
6)
Berikanlah
kemudahan dan bantuan dalam belajar
Guru
hendaknya memberikan kemudahan dan bantuan kepada siswa apabila siswa mengalami
kesulitan atau hambatan dalam belajar, baik langsung oleh guru, maupun memberi
petunjuk kepada siapa atau ke mana meminta bantuan (Nana Syaodih Sukmadinata,
2004: 71). Sugihartono, dkk. (2007: 86) mengungkapkan bahwa “guru hendaknya
dapat memberikan bimbingan kepada anak didiknya dalam menghadapi tantangan
maupun kesulitan belajar.”
7)
Berikanlah
pujian, ganjaran, atau hadiah Guru dapat memotivasi siswa melalui pemberin
pujian, ganjaran, atau hadiah.
Meskipun
demikian, guru tidak boleh berlebihan dalam memberikan hal-hal itu, melainkan
sesuai dengan usaha siswa dalam belajar (Nana Syaodih, 2004: 72). Lebih lanjut,
Gage dan Berliner (Slameto, 2003: 177) mengungkapkan bahwa kata-kata seperti
bagus, baik, pekerjaan yang baik, yang diucapkan segera setelah siswa melakukan
tingkah laku yang diinginkan atau mendekati tingkah laku yang diinginkan
merupakan pembangkit motivasi yang besar.
8)
Penghargaan
terhadap pribadi anak
Nana
Syaodih Sukmadinata (2004: 214) mengungkapkan bahwa pemahaman saja sesungguhnya
belum cukup, sebab belum berbuat apa-apa. Guru hendaknya menyiapkan dan
menyampaikan pelajaran, memberikan tugas dan latihan, bimbingan dsb.,
disesuaikan dengan kemampuan dan tahap perkembangan siswa Guru pun perlu
memberikan penghargaan terhadap pribadi siswa. Penghargaan itu dapat diwujudkan
dengan sikap menerima siswa sebagaimana adanya, menghargai pribadi siswa, dan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba sesuai dengan jalur pikirannya
sendiri. Hal itu adalah bentuk usaha pembangkitan motiv harga diri (self
esteem) (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004: 71).
Ketiga
pendapat di atas mempunyai kemiripan tentang berbagai usaha yang dilakukan oleh
guru. Peneliti menyimpulkan bahwa upaya guru dalam membelajarkan siswa
meliputi: (1) menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran, (2) menyampaikan
materi yang benarbenar dibutuhkan siswa. (3) menggunakan metode pembelajaran
yang bervariasi dan mengaktifkan siswa, (4) menggunakan media pembelajaran yang
menarik, (5) mengadakan ulangan/kegiatan antara, (6) memberikan kesempatan
kepada siswa untuk sukses, (7) memberikan bimbingan/kemudahan, (8) memberikan
pujian atau hadiah, (9) memberikan hukuman, (10), memberikan nilai, (11)
menyampaikan hasil, (12) pemahaman pribadi anak, dan (13) menjalin kerja sama
dengan orang tua.
Peneliti
menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar. Jika
dilihat dari sumbernya, faktor yang bersifat intrinsik, yaitu: (1) adanya
kebutuhan untuk belajar, (2) adanya cita-cita, (3) adanyan dorongan ingin tahu,
(4) adanya kemampuan membaca, dan (5) kondisi siswa. Sementara itu, faktor yang
bersifat ekstrinsik, yaitu: (1) pujian, (2) hukuman, (3) hadiah, (4) persaingan
atau kompetisi, (5) kondisi lingkungan, (6) unsur-unsur dinamis dalam belajar,
dan (7) upaya guru dalam membelajarkan siswa
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil pembahasan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
4.
Kebutuhan
untuk menguasai ilmu mempengaruhi motivasi belajar slow learner yang
diwujudkan dalam tindakan, berupa: rajin mengikuti pelajaran, mau memperhatikan
penjelasan guru dan mengerjakan tugas, serta rajin belajar di rumah.
5.
Cita-cita
subjek penelitian, yaitu menjadi anak yang pintar, naik kelas, lulus sekolah,
dan menjadi pemain sepak bola mempengaruhi motivasi belajarnya.
6.
Kemampuan
membaca yang dimiliki subjek penelitian mempengaruhi motivasi belajarnya. Hal
itu disebabkan kemampuan membaca yang dimiliki subjek penelitian masih rendah,
sehingga memacunya untuk giat belajar.
7.
Lingkungan
sekolah menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, ruang kelas yang nyaman,
situasi yang kondusif, program bimbingan belajar, dan ekstrakurikuler yang
menampung minat dan bakat siswa, sehingga mempengaruhi motivasi belajar subjek
penelitian.
8.
Pergaulan
teman sebaya di kelas juga mempengaruhi motivasi belajar subjek penelitian. Hal
itu disebabkan pergaulan teman sebaya yang kurang diterima, dihargai dan tidak
mendapatkan ejekan dari teman-temannya lagi.
9.
Lingkungan
keluarga/rumah tidak mempengaruhi motivasi belajar subjek penelitian. Hal itu
dapat dibuktikan dari kebiasaan Upin yang rajin belajar di rumah meskipun orang
tua tidak memberikan fasilitas belajar yang lengkap, tidak menciptakan situasi
kondusif, tidak membimbingnya belajar, tidak memberikan pujian, hadiah, atau
hukuman, serta anggota keluarga yang tidak memiliki kebiasaan belajar.
10. Upaya guru dalam
membelajarkan siswa mampu mempengaruhi motivasi belajar subjek penelitian.
Upaya yang dilakukan guru, meliputi: menyampaikan materi yang disesuaikan
dengan kebutuhan siswa pada umumnya, menggunakan metode pembelajaran yang
bervariasi dan mengaktifkan siswa, menggunakan media pembelajaran yang menarik,
mengadakan ulangan, memberikan kesempatan sukses yang kecil, memberikan bantuan
atau bimbingan, memberikan hukuman, serta memberikan dan menyampaikan nilai
atas tugas yang telah dikerjakan siswa. Beberapa hal yang belum diupayakan guru
di antaranya: belum menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran, jarang
memberikan penguatan, belum bekerja sama dengan orang tua dalam menangani
masalah yang dialami slow learner.
B. Saran
Berdasarkan
simpulan di atas, peneliti memberikan saran kepada slow learner, guru,
dan orang tua slow learner sebagai berikut.
1.
Slow Learner
Slow
learner hendaknya
tetap berusaha mengembangkan bakat dalam bermain bola untuk meraih cita-cita
menjadi pemain sepak bola.
2.
Guru
a.
Guru
hendaknya menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran kepada siswa di setiap
awal pembelajaran agar siswa lebih termotivasi untuk belajar.
b.
Guru
hendaknya memberikan penguatan berupa pujian atau hadiah untuk memotivasi siswa
dalam belajar.
c.
Guru
hendaknya memberikan kesempatan sukses yang lebih besar bagi slow learner dengan
menurunkan tingkat kesulitan tugas-tugas yang diberikan.
d.
Guru
kelas hendaknya membuat buku penghubung sebagai media komunikasi dengan orang
tua untuk menyampaikan perkembangan belajar siswa, baik slow learner maupun
siswa lainnya.
3.
Orang
tua
Orang
tua hendaknya menjalin kerja sama dengan guru atau pihak sekolah dalam
menangani slow learner dengan aktif bertanya atau memberikan informasi
tentang perkembangan belajar anak.
DAFTAR
PUSTAKA
Abu
Ahmadi dan Widodo Supriyono. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Abdorrakhman
Gintings. (2008). Esensi Praktis: Belajar dan Pembelajaran Disiapkan untuk
Pendidikan Profesi dan Sertifikasi Guru-Dosen. Bandung: Humaniora.
Ahmed
Al-Ghamdi. (2014). The Role of Motivation as A Single Factor in Second Language
Learning. Arecls ( Vol.11, 2014, 1-14). Hlm. 2.
Ana
Lisdiana. (2012). Prinsip Pengembangan Atensi pada Anak lamban Belajar: Modul
Materi Pokok Program Diklat Kompetensi Pengembangan
Fungsi Kognisi pada Anak
Lamban Belajar bagi Guru di Sekolah Inklusi Jenjang
Lanjut. Bandung: Kemendikbud.
Arief
Sardiman, dkk. (2009). Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan
Pemanfaatannya.
Jakarta: Rajawali Pers.
Aunurrahman.
(2010). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Azhar
Arsyad. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Baharuddin
dan Esa Nur Wahyuni. (2010). Teori Belajar & Pembelajaran.
Jogjakarta: Ar
Ruzz Media.
Dimyati
dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Endang
Rochyadi dan Zaenal Alimin. (2005). Pengembangan Program Pembelajaran
Individual bagi Anak Tunagrahita. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti.
Erman
Amti dan Marjohan. (1991). Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud
Dirjen
Dikti.
Eveline
Siregar dan Hartini Nara. (2011). Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor:
Ghalia
Indonesia.
Hamzah
B. Uno. (2010). Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang
Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Disini ada makalah yang lainnya:
Makalah Perkembangan Bahasa (Bicara)
Makalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Makalah Manajemen Kesiswaan
Disini ada makalah yang lainnya:
Makalah Perkembangan Bahasa (Bicara)
Makalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Makalah Manajemen Kesiswaan
No comments:
Post a Comment