Tuesday, January 9, 2018

Makalah Anak Lamban Belajar (Slow Learner)

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Setiap individu yang terlahirkan di dunia ini memiliki kemampuan yang berbeda terutama dalam bidang akademik, yang diakibatkan adanya perbedaan tingkat intelegensi yang dimiliki oleh setiap individu tersebut. Sering kita temui adanya individu yang memiliki tingkat intelegensi yang tinggi dan sering mendominasi dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam proses pembelajaran, yang disebut anak berbakat atau pintar. Ada pula anak yang biasa-biasa saja yang intelegensinya normal atau sering disebut dengan anak normal, dan sering pula ditemukan anak yang memiliki tingkat intelegensi rendah atau di bawah normal yang mengakibatkan mereka mengalami keterlambatan belajar.
Di Indonesia masih banyak anak yang mengalami lamban belajar terutama dalam bidang akademiknya. Akibat lamban belajar tersebut, prestasi belajar anak menurun atau rendah. Hal tersebut menjadi salah satu faktor rendahnya  mutu pendidikan di Indonesia.  Dalam dunia pendidikan tentunya, kita tidak akan lepas dari permasalahan tersebut. Memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai calon pendidik untuk memahami permasalahan-permasalahan yang ada tersebut dengan jelas, dan mengetahui serta melakukan upaya pemecahan masalah-masalah tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pengertian slow learner atau yang disebut lamban belajar pada anak, bagaimana karakteristik dan penyebabnya, untuk membantu calon pendidik agar memahami cara menghadapi anak yang mengalami gangguan lamban belajar.

B.       Rumusan masalah
1.         Bagaimana pengertian dari slower learner dan cara mengidentifikasinya?
2.         Bagaiman cara memahami latar belakang slower learner?
3.         Bagaimana ciri-ciri slower learner?
4.         Apa saja factor yang menyebabkan anak lambat belajar?
5.         Bagaimana metode yang dapat dilakukan untuk menangani slower learner?

C.      Tujuan
1.         Mengetahui pengertian dari slower learner dan cara mengidentifikasinya.
2.         Mengetahui cara memahami latar belakang slower learner.
3.         Memahami ciri-ciri slower learner.
4.         Mengetahui factor yang menyebabkan anak lambat belajar.
5.         Memahami metode yang dapat dilakukan untuk menangani slower learner.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Anak Lambat Belajar (Slow Learner)
1.         Pengertian Slow Learner
Endang Rochyadi dan Zaenal Alimin (2005: 30) menyebutkan bahwa anak lamban belajar disebut juga border line atau slow learner. Slow learner memiliki intelektual yang berada di bawah rata-rata ukuran normal, tetapi tidak dapat dikatakan tunagrahita. Slow learner menjadi kelompok tersendiri yang memisahkan anak tunagrahita dengan anak normal. Jika slow learner disekolahkan di SLB-C atau kelompok tunagrahita, maka slow learner menjadi anak yang terpandai di kelasnya. Jika disekolahkan di sekolah reguler, maka slow learner menjadi anak yang paling bodoh di kelas (Mumpuniarti, 2007: 15).
Nani Triani dan Amir (2013: 3) mengungkapkan bahwa anak lamban belajar adalah anak yang memiliki prestasi belajar rendah atau sedikit di bawah rata-rata dari anak pada umumnya, pada salah satu atau seluruh area akademik. Hal yang sama diungkapkan oleh Erman Amti dan Marjohan (1991: 140) bahwa murid lamban belajar (slow learner) adalah murid yang intelegensi atau kemampuan dasarnya setingkat lebih rendah daripada intelegensi murid normal. Lebih lanjut, Munawir Yusuf, dkk. (2003: 19) menambahkan bahwa slow learner adalah anak yang memiliki skor IQ 70-90 yang memiliki prestasi rendah pada sebagian besar atau seluruh mata pelajaran.
Mulyono Abdurrahman (2003: 22) mengungkapkan bahwa anak lamban belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki skor IQ 71hingga 89 yang memerlukan bantuan secara terus menerus agar dapat mengikuti program pendidikan yang didasarkan atas kriteria normal. Selain memerlukan bantuan secara terus menerus, guru juga perlu menggunakan berbagai metode mengajar dan tambahan waktu baginya ketika mengerjakan tugas agar anak lamban belajar mampu menyelesaikan tugas yang diberikan guru dengan baik. Meskipun demikian, anak tersebut tidak akan berkembang seperti anak normal pada umumnya (Maria J.Wantah, 2007: 14)
Peneliti menyimpulkan bahwa slow learner adalah anak yang memiliki skor IQ antara 70-90 dan memiliki prestasi rendah pada sebagian atau seluruh mata pelajaran, sehingga membutuhkan bantuan dari orang lain agar dapat mengikuti program pendidikan dengan baik.

2.         Penyebab Anak Lamban Belajar
a.        Faktor Prenatal (sebelum lahir) dan Genetik
Perkembangan seorang anak dimulai dari sejak pembuahan. Seluruh bawaan biologis seorang anak yang berasal dari kedua orangtuanya, berupa kromosom yang memecah menjadi partikel yang disebut gen. Kelainan dari kromosom dapat menyebabkan kelainan fungsi-fungsi kecerdasan. Selain kromosom, juga disebabkan adanya gangguan biokimia dalam tubuh. Kondisi jantung ibu yang kurang baik juga menyebabkan transfer oksigen ke otak bayi menjadi kurang.
Anak lahir prematur disinyalir dapat melahirkan anak-anak lamban belajar karena organ tubuh bayi yang belum siap berfungsi secara maksimal sehingga proses perkembangannya lambat.
b.        Faktor Biologis Non Keturunan
1)        Obat-obatan
Saat ibu hamil, tidak semua obat dapat diminum, karena ada beberapa jenis obat yang apabila diminum dapat merugikan janin. Begitu juga dengan ibu alkoholis, penggunaan dosis yang berlebih dapat berpengaruh pada kemampuan memori jangka pendek anak.
2)        Keadaan Gizi Ibu Yang Buruk Saat Hamil
Ibu hamil harus mendapatkan gizi yang baik selama proses kehamilannya, janin akan dapat hidup dan berkembang dengan baik jika ibu yang mengandungnya sehat. Bayi dalam kandungan akan mendapatkan makanan dari darah ibu melalui tali pusar.
3)        Radiasi Sinar X
Radiasi sinar X dapat mengakibatkan bermacam gangguan pada otak dan sistem tubuh lainnya. Radiasi sinar rawan terjadi saat usia kehamilan muda, kemudian berkurang resikonya saat usia hamil tua.
4)        Faktor Rhesus
Rini Handayani (2009), menyebutkan bahwa jika seorang pria Rh-positif menikah dengan wanita Rh-negatif, kadang-kadang mengakibatkan keadaan yang kurang baik bagi keturunannya.
c.         Faktor Natal (saat proses kelahiran)
Kondisi kekurangan oksigen saat proses kelahiran karena proses persalinan yang lama, dapat mengakibatkan transfer oksigen ke otak bayi terhambat. Oleh karena itu, untuk antisipasi kondisi seperti ini maka ibu hamil yang yang pernah mempunyai pengalaman seperti ini sebaiknya melakukan persalinan di rumah sakit.
d.        Faktor Postnatal (sesudah lahir) dan Lingkungan
Malnutrisi dan trauma fisik juga menjadi perhatian kita, begitu juga dengan lingkungan yang dapat berperan sebagai penyebab terjadinya anak lamban belajar (slow learner). Stimulasi yang salah, menyebabkan anak tidak dapat berkembang secara optimal. Gen dapat dianggap sebagai kemampuan intelektual, tetapi pengaruh lingkungan akan menentukan dimana letak IQ anak dalam rentang tersebut (Atkinson, dkk, 1983, h. 135).

3.         Karakteristik Slow Learner
Hasil penelitian Sumantri dan Siti Badriyah (2005: 167) menunjukkan bahwa karakteristik slow learner di antaranya: (a) kelambanan dalam proses berfikir, (b) kelemahan dalam menangkap pengertian, (c) kesulitan dalam mengingat kembali materi yang diberikan, (d) kesulitan dalam konsentrasi, (e) mengalami kegagalan berulangkali dalam mencapai target pembelajaran standar, (f) menurunnya minat dan motivasi belajar, (g) perasaan cemas terhadap penilaian negatif dan penolakan lingkungan, dan (h) memperlihatkan perilaku yang tidak menentu dan tidak konsisten.
Nani Triani dan Amir (2013: 10) menyebutkan karakteristik anak lamban belajar dilihat dari beberapa aspek:
Pertama, dari aspek intelegensi. Intelegensi anak lamban belajar berada di bawah rata-rata anak normal, yaitu antara 70-90 berdasarkan skala WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children). Biasanya, slow learner mengalami masalah hampir pada semua mata pelajaran. Slow learner juga sulit memahami hal-hal yang abstrak, sehingga membutuhkan media konkret untuk membantu pemahaman tentang suatu hal. Oleh karena itulah, slow learner banyak bergantung pada guru dan orang tua untuk membantunya belajar (Cece Wijaya dalam Mulyadi, 2010: 124-125)
Kedua, yaitu dilihat dari aspek bahasa. Slow learner juga memiliki masalah dalam berbahasa. Slow learner sulit untuk mengungkapkan apa yang dipikirkannya. Slow learner pun sulit untuk memahami perkataan orang lain ketika slow learner diajak berbicara. Orang yang mengajaknya bicara harus menggunakan bahasa yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami oleh anak lamban belajar (Nani Triani dan Amir, 2013: 11)
Ketiga, yaitu dilihat dari aspek emosi. Slow learner memiliki emosi yang kurang stabil. Slow learner sangat sensitif, mudah marah meledak-ledak. Ketika ada orang yang mengejek, slow learner akan tersinggung. Ketika slow learner melakukan kesalahan, maka slow learner pun akan mudah patah semangat dan minder, apalagi dengan nilai-nilai buruk yang didapatkannya, maka hal itu akan menurunkan motivasinya (Nani Triani dan Amir, 2013: 11). Hal ini pun didukung oleh pendapatAna Lisdiana (2012: 10) yang mengungkapkan bahwa pada umumnya anak lamban belajar (slow learner) motivasinya rendah. Jeanne Ellis Ormrod (2008: 91) menambahkan bahwa motivasi yang rendah pada anak yang mengalami kesulitan belajar dapat disebabkan karena sering berhadapan dengan tugas-tugas yang sulit.
Hasil penelitian Purwandari (Tin Suharmini, 2001: 6-7) mengungkapkan ciri-ciri emosi anak lamban belajar sebagai berikut.
a.         Daya konsentrasi rendah
Anak lamban belajar memiliki daya konsentrasi yang sebentar. Sebagai contoh, anak lamban belajar memiliki konsentrasi dalam belajar selama +20 menit, setelah itu anak akan gelisah dan cenderung mengganggu teman-temannya yang sedang belajar.
b.        Mudah lupa dan beralih perhatian
Slow learner tidak memiliki daya ingat yang lama. Slow learner mudah lupa akan suatu hal. Perhatiannya pun mudah beralih ketika mendapatkan rangsangan dari luar.
c.         Eksplosif
Anak lamban belajar mudah bereaksi terhadap rangsangan tanpa pertimbangan terlebih dahulu.
Keempat, yaitu dilihat dari aspek sosial. Slow learner kurang baik dalam hal sosialnya. Ketika bersama anak seumurannya, slow learner cenderung pasif bahkan menarik diri. Slow learner lebih senang bermain dengan anak di bawah usianya, karena slow learner dapat menggunakan bahasa yang sederhana saat berkomunikasi dan itu membuatnya aman dan gembira (Nani Triani dan Amir, 2013: 12). Ketika berhadapan dengan orang yang lebih dewasa, slow learner memiliki tingkah laku lekat, bersikap sopan, memiliki prasangka terhadap guru di sekolah, dan kadang melakukan protes ketika ada yang dinilai kurang mempedulikannya (Tin Suharmini, 2001: 8).
Kelima, yaitu dilihat dari aspek moral. Anak lamban belajar tahu adanya aturan yang berlaku tetapi slow learner tidak paham untuk apa aturan tersebut dibuat. Slow learner pun terkadang tidak patuh terhadap aturan karena momorinya juga kurang baik, sehingga slow learner mudah lupa. Oleh karena itu, anak lamban belajar harus sering diingatkan.
Sangeeta Chauhan (2011: 282-283) mengungkapkan karakteristik slow learner dalam jurnal internasionalnya sebagai berikut: “Characteristics of slow learners can be systematically listed out: (1) limited cognitive capacity, (2) poor memory, (3) distraction and lack of concentration, (4) inability to express ideas.” . Apabila terjemahkan dalam bahasa Indonesia, karakteristik slow learner dapat ditulis secara sistematik, yaitu (1) keterbatasan kapasitas kognitif, (2) kapasitas memori yang rendah, (3) gangguan dan kurang konsentrasi, dan (4) ketidakmampuan untuk mengeskpresikan ide-ide.
Erman Amti dan Marjohan (1991: 141) juga mengemukakan ciri-ciri anak lamban, yaitu: (a) keadaan fisik pada umumnya sama dengan murid-murid normal, (b) kemampuan berpikirnya agak rendah, (c) ingatannya agak lemah dan tidak tahan lama, (d) banyak yang mengalami putus sekolah, (e) dalam kehidupan di rumah, murid lamban belajar masih mampu berkomunikasi dan bergaul secara baik dengan saudara-saudaranya, (f) emosinya kurang terkendali dan sering mementingkan diri senidiri, (g) murid lamban belajar dapat dilatih beberapa macam keterampilan yang bersifat produktif.
Peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik slow learner, meliputi: (a) kondisi fisik seperti anak normal, (b) intelegensi rendah, (c) lamban dalam proses berpikir, (d) mangalami masalah pada hampir semua bidang, (e) sulit memahami hal-hal abstrak, (f) sulit mengungkapkan ide, (g) emosi kurang stabil, (h) daya konsentrasi rendah, (i) minat dan motivasi belajar rendah, (j) mudah lupa dan beralih perhatian, (k) lebih suka bermain dengan anak di bawah usianya, (l) tahu aturan tetapi tidak paham untuk apa aturan itu dibuat, dan (m) bergantung kepada guru dan orang tua dalam membuktikan ilmu pengetahuan.

4.         Masalah Yang Dihadapi Anak Lamban Belajar
a.         Anak mengalami perasaan minder, karena kemampuan belajarnya lamban dibandingkan teman-temannya.
b.        Cenderung pemalu, menarik diri dari lingkungannya.
c.         Lamban menerima informasi, karena keterbatasan berbahasa.
d.        Hasil prestasi belajar kurang optimal sehingga dapat membuat stress karena ketidakmampuan mencapai harapannya.
e.         Ketidakmampuan mengikuti pelajaran, dapat membuat anak tinggal kelas.
f.         Mendapat label yang kurang baik dari teman-temannya.

5.         Cara Menghadapi Anak Lamban Belajar
Siswa lambat belajar perlu diidentifikasikan secara lebih mendalam dan menyeluruh. Identifikasi secara mendalam dan menyeluruh akan memungkinkan guru di dalam menyusun program bantuan dan layanan bimbingan secara tepat sehingga mencapai hasil yang optimal.
Identifikasi siswa lambat belajar antara lain meliputi:
a.         Penilaian pendidikan:
1)        Prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran-pelajaran dasar dan kesulitan-kesulitan yang dialami.
2)        Tingkat perkembangan bahasa dan pembicaraan siswa.
3)        Sikap sosial dan emosial siswa di dalam dan di luar sekolah.
4)        Minat dan sikap terhadap sekolah.
5)        Riwayat pendidikan sebelumnya meliputi perubahan-perubahan sekolah dan kehadiran.
6)        Minat dan latar belakang pengetahuan siswa.
b.        Pemeriksaan kesehatan yang meliputi keadaan kesehatan pada umumnya penyakit yang pernah di derita,penglihatan, pendengaran, hidung dan sistem syaraf.
c.         Pemeriksaan psikologi yang meliputi kualitas berfikir,kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan intelektual, sikap serta sifat-sifat pribadi lainnya.
d.        Pengungkapan taraf perkembangan sosial siswa seperti suasana emosional kesulitan-kesulitan yang dialami yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar siswa.

6.         Penanganan Anak Lamban Belajar
a.        Terapi Bermain
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang gemar bermain, mereka merasa senang bila melakukan aktivitas bermain. Terapi bermain adalah salah satu upaya psikoterapi untuk membantu mengatasi masalah sosial, bahasa atau motorik.
b.        Terapi Perilaku
Diberikan kepada anak dengan tujuan melatih perilaku baru dengan mengubah lingkungan atau dengan proses kognitif dan emosional anak,. Misalnya, kebiasaan mencorat-coret tembok menjadi kebiasaan menggambar di buku.
c.         Terapi Keluarga
Terapi keluarga adalah terapi yang diterapkan untuk seluruh anggota keluarga dalam rangka membantu anak lamban belajar. Banyak masalah anak dapat diatasi dengan cepat karena bantuan atau dukungan keluarganya.

d.        Terapi Lain
Terapi lain seperti okupasi terapi, terapi renang dan lain-lain sesuai masalah yang dihadapi oleh anak, didahului konsultasi dengan para ahli.

7.         Teknik Bimbingan yang dapat diterapkan pada anak lamban belajar
Menurut Hallen, A (40:2005) mengemukakan Program Layanan Bimbingan Konseling yang dikembangkan bagi siswa lambat belajar mengacu pada keadaan individu sebagai manusia seutuhnya sehingga menyentuh semua dimensi perkembangan kepribadian secara utuh. Teknik yang dimaksudkan untuk menangani siswa tersebut akan mengarah pada unsur-unsur yang berhubungan dengan:
a.        Pengembangan ranah kognitif atau intelektual
Pada pengembangan ini guru diharapkan menyediakan rentangan pengalaman belajar yang luas serta dapat diamati atau nyata. Pengelolahan bahan dan tugas ajar secara khusus yang di dasarkan pada kurikulum yang ada merupakan hal yang harus dilakukan guru dalam memberikan pelayanan optimal bagi siswa lamban belajar.  ( Menurut Hallen, A 41:2005).
b.        Pengembangan ranah afektif
Pembimbing diharapkan memahami pikiran dan harapan anak yang ada pada dirinya serta kemungkinan pemenuhannya di dalam sikap kehidupan berkelompok. (Menurut Hallen,A 42:2005).
c.         Pengembangan ranah fisik
Pembimbing diharapkan memberikan layanan yang dapat memberikan kemungkinan siswa memperoleh pengalaman memadukan pola perkembangan berfikir dengan perkembangannya dan memberikan peran-peran yang sesuai di dalam kelompoknya. (Menurut Hallen, A 43:2005).
d.        Pengembangan ranah intuitif
Fungsi intuitif merupakan fungsi yang terlibat di dalam pemunculan wawasan dan tindakan kreatif. Mengingat fungsinya itu, maka layanan bagi siswa yang lambat belajar perlu memperdulikan pengembangan pengalaman yang mendorong dia untuk berimajenasi dan berkreasi (dalam tingkat yang sederhana). (Menurut Hallen, A 44:2005).
e.         Pengembangan ranah masyarakat
Pemberian layanan dapat dilakukan dengan membantu siswa  memperoleh pengalaman mengembangkan diri menjadi anggota kelompok, serta mampu berpartisipasi dalam proses kelompok, memperluas perasaan keanggotaan masyarakat. Memperluas identifikasi diri dari masyarakat terbatas ke arah identifikasi terhadap masyarakat luas. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan merancang kegiatan-kegiatan kelompok khusus. (Menurut Hallen, A 45:2005).

Selain itu, Menurut Heru Mugiarso (58:2006) ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh seorang konselor atau guru antara lain:
a.        Bimbingan bagi anak dengan masalah konsentrasi
1)        Mengubah cara mengajar dan jumlah materi yang akan diajarkan.
Siswa yang mengalami masalah perhatian dapat ketinggalan jika materi yang diberikan terlalu cepat atau jika beban menumpuk dengan materi yang kompleks. Oleh akrena itu, akan berguna bagi mereka untuk:
a.         Memperlambat laju presentasi materi
b.         Menjaga agar siswa tetap terlibat dengan memberi pertanyaan pada saat materi diberikan.
c.         Gunakan perangkat visual seperti membuat bagan/ skema garis besar materi untuk memberikan gambaran pada siswa mengenai langkah-langkah atau bagian-bagian yang diajarkan.
2)        Adakan pertemuan dengan siswa.
Siswa mungkin tidak menyadari peranan perhatian dalam proses pengajaran. Mereka juga tidak menyadari kalau perhatian merupakan bidang kesulitan tertentu bagi mereka. Dalam pertemuan ini kita dapat  memberikan penjelasan dengan cara yang tanpa memberikan hukuman dan tanpa ancaman akan sangat berguna bagi siswa.
3)        Bimbing siswa lebih dekat ke proses pengajaran.
Karena tanpa disadari kita telah mengalihkan perhatian kita dari siswa. Dengan membawa mereka dekat dengan kita secara fisik secara rafia akan membawa si anak lebih dekat kepada proses pengajaran.
4)        Berikan dorongan secara langsung dan berulang-ulang.
Biasakan siswa tahu kalau anda melihatnya ketika sedang memperhatikan. Menggunakan  kontak mata ketika pembelajaran berlangsung itu sangat penting. Cobalah berikan penghargaan atas kehadirannya. Bisa juga dengan penghargaan verbal yang dilakukan dengan tenang, dan lembut.
5)        Utamakan ketekunan perhatian daripada kecepatan menyelesaikan tugas.
Siswa mungkin merasa kecil hati dan tidak diperhatikan bila mereka dihukum karena tidak menyelesaikan tugas secepat orang lain. Membuat penyesuaian dan jumlah tugas yang harus diselesaikan maupun waktu yang disediakan untuk menyelesaikan tugas berdasar kemampuan individu mengkin akan sangat membantu dan mendorong bagi sebagaian siswa.
6)        Ajarkan self-monitoring of attention.
Melatih siswa untuk memonitor perhatian mereka sendiri sewaktu-waktu dengan menggunakan timer atau alarm jam. Mengajarkan mereka untuk mencatat berbagai interval apakah mereka memberikan perhatian atau tidak pada saat pengajaran. Catatan ini akan membantu menciptakan perhatian yang lebih besar bagi kebutuhan dalam memfokuskan perhatian juga bisa berguna dalam strategi untuk memperkokoh keterampilan memperhatikan “attention skill”.
b.        Bimbingan bagi anak dengan masalah daya ingat
1)        Ajarkan menggunakan highlighting atau menggaris bawahi dengan penanda, untuk membantu memancing ingatan. Mereka harus diberi tahu cara memilih tajuk bacaan, kalimat dan istilah kunci untuk diberi garis bawah atau tanda dengan highlighter. Kemudian mereview dari bacaan yang sudah digaris bawahi tadi.
2)        Perbolehkan menggunakan alat bantu memori (memory aid). Yang mana alat-alat itu bisa berfungsi bagi mereka sebagai alat pengingat dan bisa juga sebagai alat pengajaran.
3)        Biarkan siswa yang mengalami masalah sulit mengingat untuk mengambil tahapan yang lebih kecil dalam pengajaran. Misalnya dengan membagi tugas-tugas kelas dan tugas rumah atau dengan memberikan tes kemampuan penguasaan lebih sering.
4)        Ajarkan siswa untuk berlatih mengulang dan mengingat. Misalnya dengan memberikan tes langsung setelah pelajaran disampaikan.
c.         Bimbingan bagi anak dengan masalah kognisi
1)        Berikan materi yang dipelajari dalam konteks “high meaning”.
Ini berguna untuk untuk mengetahui apakan siswa memahami arti bacaan mereka atau arti suatu pertanyaan mengenai materi baru. Pengertian dapat diperkokoh dengan menggunakan contoh, analogi atau kontras.
2)        Menunda ujian akhir dan penilaian.
Perlu memberikan umpan balik dan dorongan yang lebih sering bagi siswa berkesulitan belajar. Evaluai terhadap tugas mereka sebagai tambahan pengajaran akan sangat membantu. Dengan kata lain, suatu kesadaran yang konstan mengenai siswa ini akan membentuk kepercayaan diri dan kemampuan mereka. Bagi sebagian siswa, menunda ujian akhir mereka sampai siswa menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari, mungkin merupakan cara terbaik.
3)        Tempatkan siswa dalam konteks pembelajaran yang “tidak pernah gagal”.
Siswa lamban belajar seringkali mempunyai sejarah kegagalan disekolah. Biasanya mereka memiliki perasaan akan gagal (sense of failing) dalam berbagai hal yang mereka lakukan. Memutuskan rantai kegagalan dan menciptakan cipta diri (senseof self) baru bagi siswa ini merupakan sesuatu yang paling penting bagi guru untuk melakukannya. Pada setiap tugas atau kemampuan siswa harus ditarik kembali kepada masalah dimana tugas dapat dilakukan tanpa kegagalan.
d.        Bimbingan bagi anak dengan masalah social dan Emosional
1)        Membuat sistem perhargaan kelas yang dapat diterima dan dapat diakses.
Siswa yang  berkesulitan belajar perlu memahami system penghargaan ini dikelas dan merasa ikut serta di dalamnya. Jangan sampai siswa yang berkesulitan melajar merasa “out laws”, mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghargaan yang diterima siswa lain. Untuk memahami bagaimana mereka bisa mendapatkan penghargaan yang baik, para siswa disini perlu diberi pemahaman tentang bagaimana cara mendapatkan keuntungan sosial dari sikap positif dan hubungan sosial yang baik dikela, beberapa siswa mungkin ingin pembuktian langsung dikelas.
2)        Membentuk kesadaran tentang diri dan orang lain.
Sebagian siswa yang berkesulitan belajar tidak memilki kesadaran yang jelas pada sikapnya sendiri serta dampaknya pada orang lain. Membantu siswa ini menjadi lebih mengenal sikap mereka dan dampaknya pada orang lain merupakan kesempatan yang berarti bagi perkembangan sosial dan emosional. Berbicara terbuka dan penuh perhatian kepada siswa ini mengenai sikapnya juga dapat menjadi langkah penting dalam membentuk hubungan yang saling percaya di antara mereka.
3)        Mengajarkan sikap positif.
Ketika siswa lamban belajar menjadi lebih sadar terhadap sikapnya dan mendapat pemahaman yang lebih baik atas interaksi dengan orang lain, mereka akan merespon dengan baik intruksi-intruksi tentang cara membentuk hubungan yang baik dan senseof self (citra diri) yang lebih positif.
4)        Minta bantuan
Jika sikap seorang siswa lamban belajar sangat tidak layak atau sikap negatifnya tetap ada ketika semua cara telah dicoba, jangan ragu minta bantuan. Cari bantuan pada teman sejawat disekolah yang mungkin dapat memberikan bantuan dalam menjelaskan masalah-masalah sosial dan emosional, serta mencari solusi mengenai kesulitan tersebut. Pertolongan ini bisa datang dari psikolog, konselor, orang tua, guru, dan kepala sekolah. Yang terpenting seorang pendidik memahami bahwa minta bantuan bukan tanda kelemahan atau ketidakmampuan.

8.         Peran Guru dalam Rangka Menangai keterlamatan belajar siswa
Menurut Mulyati (2007:23) peran guru dalam rangka menangani keterlambatan belajar siswa adalah:
a.         Pahami bahwa anak membutuhkan lebih banyak pengulangan, 3 sampai 5 kali, untuk memahami suatu materi daripada anak lain dengan kemampuan rata-rata. Maka, dibutuhkan penguatan kembali melalui aktivitas praktek dan yang familiar, yang dapat membantu proses generalisasi.
b.        Anak slow-learner yang tidak berprestasi dalam akademik dasar dapat memperoleh manfaat melalui kegiatan tutorial di sekolah atau privat. Tujuan tutorial bukanlah untuk menaikkan prestasinya, tetapi membantunya untuk optimis terhadap kemampuannya dan menghadapkannya pada harapan yang realistik dan dapat dicapainya.
c.         Berusahalah untuk membantu anak membangun pemahaman dasar mengenai konsep baru daripada menuntut mereka menghafal materi dan fakta yang tidak berarti bagi mereka.
d.        Gunakan demonstrasi dan petunjuk visual sebanyak mungkin. Jangan membingungkan mereka dengan terlalu banyak verbalisasi. Pendekatan multisensori juga dapat sangat membantu.
e.         Jangan memaksa anak bersaing dengan anak dengan kemampuan yang lebih tinggi. Adakan sedikit persaingan dalam program akademik yang tidak akan menyebabkan sikap negatif dan pemberontakan terhadap proses belajar. Belajar dengan kerjasama dapat mengoptimalkan pembelajaran, baik bagi anak yang berprestasi atau tidak, ketika pemebelajaran tersebut mendukung interaksi sosial yang tepat dalam kelompok yang heterogen.
f.         Konsep yang sederhana yang diberikan pada anak pada permulaan unit instruksial dapat membantu penguasaan materi selanjutnya. Maka, dibutuhkan beberapa modifikasi di kelas.
g.        Anak sebaiknya diberi tugas, terutama dalam pelajaran sosial dan ilmu alam, yang terstruktur dan konkret. Proyek-proyek besar yang membutuhkan matangnya kemampuan organisasional dan kemampuan konseptual sebaiknya dikurangi, atau secara substansial dimodifikasi, disesuaikan dengan kemampuannya. Dalam kerja kelompok, slow-learner dapat ditugaskan untuk bertanggung jawab pada bagian yang konkret, sedang anak lain dapat mengambil tanggung jawab pada komponen yang lebih abstrak.
h.        Tekankan hal-hal setelah belajar, berikan insentif dan motivasi yang bervariasi.
i.          Berikan banyak kesempatan bagi anak untuk bereksperimen dan mempraktikkan konsep baru dengan materi yang konkret atau situasi yang menstimulasi.
j.          Pada awal setiap unit, kenalkan anak dengan materi-materi yang familiar.
k.        Sederhanakan petunjuk dan yakin bahwa petunjuk itu dapat dimengerti.
l.          Penting bagi guru untuk mengetahui gaya belajar masing-masing anak, ada yang mengandalkan kemampuan visual, auditori atau kinestetik. Pengetahuan ini memudahkan penerapan metode belajar yang tepat pada mereka.

B.       Motivasi Belajar
1.         Pengertian Motivasi Belajar
Hamzah B. Uno (2010: 33) mengungkapkan bahwa motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku pada umumnya, dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Sementara itu, Abdorrakhman Gintings (2008: 86) menyebutkan bahwa motivasi belajar adalah sesuatu yang menggerakkan atau mendorong siswa untuk belajar atau menguasai materi pelajaran yang diikutinya.
Sardiman (2007: 75) mengungkapkan bahwa dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh siswa itu dapat tercapai. Hal senada diungkapkan oleh Faturrohman dan Sulistyorini (2012: 143) bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak yang ada dalam diri individu (siswa) yang menimbulkan kegiatan belajar dan memberikan arah kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh siswa yang bersangkutan sebagai subjek belajar.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak, baik internal maupun eksternal pada diri siswa yang mampu menggerakkan, memberikan arah, dan menjaga kelangsungan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya.

2.         Jenis-jenis Motivasi Belajar
Berdasarkan sumbernya, motivasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Baharuddin dan Esa Nur (2010: 23) mengungkapkan bahwa motivasi intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Adapun motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar diri individu, tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar.
John W. Santrock (2009: 204) mengungkapkan bahwa motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (sebuah cara untuk mencapai suatu tujuan). Adapun motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi hal itu sendiri (sebuah tujuan itu sendiri). Lebih lanjut, Muhibbin Syah (2011: 134) mengungkapkan bahwa motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar, sedangkan yang termasuk motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar diri siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.
Nana Syaodih (2004: 63-64) menggolongkan motivasi menjadi tiga jenis. Ketiga jenis motivasi itu adalah sebagai berikut:
a.         Motivasi takut atau fear motivation. Motivasi ini terlihat ketika individu melakukan suatu perbuatan karena takut.
b.        Motivasi insentif atau incentive motivation. Motivasi ini terlihat saat individu melakukan sesuatu perbuatan untuk mendapatkan suatu insentif. Bentuk insentif di antaranya: mendapatkan hadiah, penghargaan, piagam, dan lain-lain.
c.         Sikap atau attitude motivation atau self motivation. Sikap merupakan suatu motivasi yang menunjukkan ketertarikan atau ketidaktertarikan seseorang pada suatu objek.
Nana Syaodih (2004: 64) menyebutkan bahwa motivasi jenis ketiga termasuk motivasi intrinsik, muncul dari dalam diri individu, sedangkan jenis pertama dan kedua lebih bersifat ekstrinsik, yaitu datang dari luar individu.
Abdorrakhman Gintings (2008: 88-89) juga menyebutkan dua jenis motivasi, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi untuk belajar yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi untuk belajar yang berasal dari luar diri siswa itu sendiri.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang bersumber dari dalam siswa yang mendorongnya untuk belajar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang bersumber dari luar diri siswa yang mempengaruhi tingkah lakunya dalam belajar.
Abdorrakhman Gintings (2008: 88-89) mengungkapkan bahwa sifat motivasi intrinsik adalah bertahan lebih lama daripada motivasi ekstrinsik dan tidak selalu timbul dari dalam diri seseorang, melainkan dapat timbul dari motivasi ekstrinsik yang terus menerus didapatkan. Sifat motivasi ekstrinsik adalah mudah hilang dan apabila diberikan terus menerus akan menimbulkan motivasi intrinsik dalam diri seseorang.

3.         Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Faktor yang mempengaruhi motivasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Amir Daien Indrakusuma (Faturrohman dan Sulistyorini, 2012: 153-154) mengungkapkan faktor-faktor ekstrinsik yang mempengaruhi motivasi adalah ganjaran, hukuman, dan persaingan atau kompetisi.
Adapun faktor-faktor intrinsik yang mempengaruhi motivasi adalah sebagai berikut:
a.        Adanya kebutuhan
Semua tindakan manusia dilakukan berdasarkan adanya kebutuhan. Hal itu diungkapkan oleh Fathurrohman dan Sulistyorini (2012: 153) yang menyebutkan bahwa pada hakikatnya semua tindakan yang dilakukan manusia adalah untuk memenuhi kebutuhannya. Lebih lanjut, Melendy (Ahmed Al-Ghamdi, 2014: 2) mengungkapkan bahwa motivasi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang dimulai dari adanya kebutuhan dan mengarahkan tindakan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu kebutuhan yang tak bisa dihindari oleh anak didik adalah keinginannya untuk menguasai ilmu pengetahuan (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 120- 121). Oleh karena itulah anak didik belajar. Anak didik pun giat belajar untuk memenuhi kebutuhannya demi memuaskan rasa ingin tahunya terhadap sesuatu.
b.        Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri
Siswa yang mengetahui kemajuan diri, baik itu tentang suatu prestasi atau kemunduran diri, maka hal ini dapat menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi siswa. Siswa yang memperoleh prestasi baik akan termotivasi untuk  semangat belajar agar prestasinya terus meningkat, siswa yang prestasinya belum baik akan termotivasi untuk mencetak prestasi yang lebih baik.
c.         Adanya aspirasi atau cita-cita
Setiap orang memiliki cita-cita. Cita-cita inilah yang akan mendorong individu untuk meraihnya dengan bertindak.

Arden N. Frandsen (Baharuddin dan Esa Nur, 2010: 23) menyebutkan faktor-faktor motivasi intrinsik dalam belajar, meliputi: (1) dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas, (2) adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju, (3) adanya keinginan untuk mencapai prestasi, dan (4) adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya. Motivasi ekstrinsik dapat berupa pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru atau orang tua, dan lain-lain (Baharuddin dan Esa Nur, 2010: 23).
Dimyati dan Mudjiono (2006: 97-100) mengungkapkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa sebagai berikut:
a.        Cita-cita atau aspirasi siswa
Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun ekstrinsik, sebab seseorang akan melakukan sesuatu agar cita-citanya dapat tercapai. Hal itu diungkapkan oleh Dimyati Zuhdi dan Mudjiono (2006: 97-98) bahwa “cita-cita siswa untuk „menjadi seseorang‟ akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajar.” Lebih lanjut, Eveline dan Hartati (2011: 54) mengungkapkan bahwa “cita-cita dalam belajar merupakan tujuan hidup siswa, hal ini merupakan pendorong bagi seluruh kegiatan dan pendorong bagi belajarnya.”. Hasil penelitian Peter Sullivan dan Andrea McDonough (2007: 704) menunjukkan bahwa siswa yang memiliki cita-cita tentang karir di masa depan akan termotivasi untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran, sebaliknya siswa yang tidak tahu cita-citanya, tidak memberikan pengaruh positif terhadap motivasinya.
b.        Kemampuan membaca
Kegiatan belajar tidak terlepas dari membaca, seperti yang diungkapkan oleh Syaiful Bahri Djamarah (2002: 120) bahwa “kegiatan belajar selalu berhubungan dengan membaca.”. Kemampuan membaca akan menunjang siswa dalam menguasai ilmu pengetahuan. Ketika seorang siswa yang mampu membaca melihat suatu bacaan, maka siswa tersebut akan terdorong untuk membacanya tanpa disuruh oleh orang lain. Seorang siswa yang belum bisa membaca dengan lancar dan mengalami kesulitan mengucapkan huruf tertentu, akan terdorong untuk berlatih agar mampu mengatasi kesulitan yang dialami, seperti yang diungkapkan oleh Morgan (Sardiman, 2007: 80) bahwa “kesulitan mampu mendorong seseorang untuk mengatasinya.”. Latihan yang dilakukan terus menerus menyebabkan siswa dapat berhasil membaca dengan lancar. Keberhasilan siswa dalam membaca mampu memuaskan dan menyenangkan hatinya (Dimyati Zuhdi dan Mudjiono, 2006: 98).
c.         Kondisi siswa
Kondisi siswa meliputi kondisi jasmani dan rohani. Kondisi jasmani contohnya berkaitan dengan kesehatan. Seorang siswa yang sehat akan memiliki motivasi belajar yang lebih baik bila dibandingkan dengan siswa yang sedang sakit. Kondisi rohani berkaitan dengan suasana hati. Siswa yang sedang sedih akan enggan untuk belajar, sebaliknya siswa yang sedang bahagia akan bersemangat untuk belajar.
d.        Kondisi lingkungan siswa
Kondisi lingkungan siswa, meliputi lingkungan sekolah, pergaulan sebaya, dan lingkungan tempat tinggal. Lingkungan pertama, yaitu lingkungan sekolah. Nana Syaodih Sukmadinata (2004: 164-165) mengungkapkan bahwa sekolah yang kaya dengan aktivitas belajar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, terkelola dengan baik, diliputi suasana akademis yang wajar, akan sangat mendorong semangat belajar para siswanya. Sementara itu, Dimyati Zuhdi dan Mudjiono (2006: 249) menambahkan bahwa “lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik”.
Pergaulan teman sebaya juga mempengaruhi motivasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Aunurrahman (2010: 194) bahwa pengaruh teman sebaya mampu memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar. Slameto (2003: 66-67) menambahkan bahwa siswa yang kurang disenangi teman-temannya akan mengakibatkan rasa rendah diri, mengalami tekanan-tekanan batin, diasingkan, dan bahkan menjadi malas untuk masuk sekolah dengan alasan-alasan tertentu.
Pergaulan teman sebaya yang kurang baik juga dapat memotivasi siswa untuk berusaha agar dapat diterima oleh siswa lainnya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Maslow (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004: 68) bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang dalam kehidupannya selalu berinteraksi dengan orang lain, ingin mendapatkan penerimaan dan penghargaan dari yang lainnya.
Terkait dengan faktor keluarga, meliputi: keadaan rumah dan ruangan tempat belajar, sarana dan prasarana belajar yang ada, suasana dalam rumah apakah tenang atau banyak kegaduhan, suasana lingkungan di sekitar rumah, keutuhan keluarga, iklim psikologis, iklim belajar dan hubungan antar anggota keluarga (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004: 163-164).
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyadi (2004:88) mengungkapkan bahwa keadaan rumah yang ramai atau ribut, kebisingan dari suarasuara anggota keluarga, televisi, atau radio akan mengganggu suasana belajar anak. Pendapat yang hampir sama diungkapkan oleh Slameto (2003: 63) bahwa suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak dapat memberi ketenangan kepada anak yang belajar. Suasana tersebut dapat terjadi pada keluarga yang besar yang terlalu banyak penghuninya, rumah yang bising dengan suara radio, tape recorder, atau TV pada waktu belajar, akan mengganggu konsentrasi anak dalam belajar. Agar anak dapat belajar dengan baik, perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tentram.
Fasilitas belajar juga mempengaruhi motivasi belajar. Hal itu diungkapkan oleh Abu Ahmadi dan Widodo Supriyadi (2004: 88) bahwa “fasilitas belajar anak seperti meja belajar dan peralatan seperti pensil, penghapus, tinta, penggaris, buku tulis, buku pelajaran, jangka dan lain-lain akan membentuk kelancaran dalam belajar, dan kurangnya alat-alat itu akan menghambat kemajuan belajar anak.” Slameto (2003: 63) menambahkan bahwa anak yang belajar membutuhkan fasilitas belajar, seperti: ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis-menulis, buku-buku dan lain-lain.
Nana Syaodih Sukmadinata (2004: 164) menambahkan bahwa iklim belajar yang baik, seperti keluarga yang anggota-anggotanya gemar belajar dan membaca akan memberikan dukungan yang positif terhadap perkembangan belajar, sebaliknya keluarga yang tidak senang belajar dan membaca tidak akan mendorong anak-anaknya untuk senang belajar dan membaca. Lebih lanjut, Eveline dan Hartati (2011: 55) mengungkapkan bahwa lingkungan yang tidak menunjukkan kebiasaan belajar dan mendukung kegiatan belajar akan berpengaruh terhadap rendahnya motivasi belajar”.
e.         Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
Siswa mengalami perubahan-perubahan dalam hal perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran. Semua itu mempengaruhi motivasi belajar siswa. Eveline dan Hartini (2011: 55) mengungkapkan bahwa sejauh mana upaya memotivasi itu dilakukan, bagaimana juga dengan bahan pelajaran, alat bantu belajar, suasana belajar, dan sebagainya dapat mendinamiskan proses pembelajaran.
f.          Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Upaya guru dalam membelajarkan siswa dapat terjadi di sekolah maupun di luar sekolah. Adapun upaya guru dalam membelajarkan siswa di sekolah, yaitu: (1) menyelenggarakan tertib belajar di sekolah, (2) membina disiplin belajar dalam tiap kesempatan, (3) membina belajar tertib pergaulan, (4) membina belajar tertib lingkungan sekolah, (5) pemahaman tentang diri siswa dalam rangka kewajiban tertib belajar, (6) pemanfaatan penguatan berupa hadiah, kritik, hukuman secara tepat guna, dan (7) mendidik cinta belajar. Adapun upaya guru membelajarkan siswa di luar sekolah adalah kerja sama dengan keluarga, lembaga agama, pramuka, dan pusat pendidikan lainnya dalam upaya mendidikkan belajar tertib hidup (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 100-101).
Upaya-upaya guru dalam membelajarkan siswa berdasarkan pendapat Dimyati dan Mudjiono masih terlalu umum. Berikut ini adalah pendapat dari Sardiman (2006: 92-95) mengungkapkan bentukbentuk dan cara-cara yang dapat digunakan guru dalam kegiatan belajar di sekolah dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut.
1)        Memberi angka/nilai
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002: 168) mengungkapkan bahwa nilai merupakan motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada siswa untuk mempertahankan atau lebih meningkatkan prestasi belajarnya. Pendapat yang hampir sama diungkapkan oleh Sardiman (2007: 93) bahwa nilai yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat, tetapi angka bukanlah hasil belajar sejati. Oleh karena itu, guru harus memberikan angka-angka dengan dikaitkan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam setiap pengetahuan, sehingga pengetahuan itu menjadi bermakna.
2)        Hadiah Pemberian hadiah tidak boleh berlebihan
Hadiah yang diberikan harus disesuaikan dengan usaha siswa dalam belajar.
3)        Saingan/kompetisi Ada kalanya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersaing atau berkompetisi. Saingan atau kompetisi dapat digunakan guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Persaingan dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok.

4)        Ego-involvement Ego involvement adalah cara guru untuk menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga dirinya. Dengan demikian, seorang siswa akan termotivasi untuk mencapai prestasi yang baik untuk menjaga harga dirinya.
5)        Memberi ulangan Siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian ulangan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
6)        Mengetahui hasil Siswa yang mengetahui hasil belajarnya akan terdorong untuk giat belajar, apalagi ketika siswa mengetahui adanya kemajuan pada dirinya, maka siswa akan berusaha mempertahankan nilainya, sebaliknya ketika siswa mengetahui hasilnya kurang memuaskan atau nilainya rendah, maka siswa akan termotivasi belajar agar hasil belajarnya dapat memuaskan.
7)        Pujian Pujian merupakan salah satu reinforcement positif. Pemberian pujian pun harus tepat, agar dapat memupuk suasana yang menyenangkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa, sekaligus membangkitkan harga diri siswa.
8)        Hukuman Ada kalanya guru memberikan hukuman dalam proses pembelajaran. Hukuman yang diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002: 176) menyebutkan bentuk-bentuk hukuman yang mendidik, seperti: ketika ada kesalahan anak didik karena melanggar disiplin dapat diberikan hukuman berupa sanksi menyapu lantai, mencatat bahan pelajaran yang ketinggalan, anak didik yang membuat keributan dapat diberikan sanksi untuk menjelaskan kembali bahan pelajaran yang baru saja dijelaskan oleh guru.
9)        Hasrat untuk belajar Hasrat untuk belajar memiliki arti adanya kesengajaan, maksud siswa untuk belajar. Hasrat untuk belajar berarti pada siswa itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik. Guru harus mempertahankan hasrat belajar siswa. Jangan sampai metode mengajar guru justru akan menghilangkan hasrat untuk belajar siswanya.
10)    Minat Proses belajar akan berjalan lancar jika disertai minat. Oleh karena itu, guru hendaknya menciptakan pembelajaran yang menggugah minat belajar siswa, misalnya dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik. Penggunaan media pembelajaran selain menggugah minat belajar, juga dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana dan Rivai (Azhar Arsyad, 2011: 25) bahwa salah satu manfaat media pembelajaran adalah siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain, seperti mengamati, melakukan, mendemostrasikan, memerankan, dan lain-lain. Lebih lanjut, Arief Sardiman, dkk. (2009: 17) mengemukakan bahwa media pendidikan berguna untuk menimbulkan kegairahan belajar, memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan, serta memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
11)    Tujuan yang diakui Tujuan pembelajaran hendaknya disampaikan kepada siswa. Tujuan yang diakui dan diterima siswa akan menjadi alat motivasi yang penting. Siswa yang paham dengan tujuan pembelajaran akan menjadi tahu pentingnya belajar, sehingga akan timbul gairah untuk terus belajar.

Nana Syaodih (2004: 71-72) juga mengungkapkan beberapa usaha yang dapat dilakukan guru di sekolah sebagai berikut:
1)        Menjelaskan manfaat dan tujuan dari pelajaran yang diberikan
Penting bagi siswa untuk memahami manfaat dan tujuan pelajaran yang akan diberikan oleh guru. Setelah memahami manfaat dan tujuan pelajaran, maka siswa akan merasa butuh untuk mempelajari materi tersebut. Hal tersebut diungkapkan oleh Nana Syaodih Sukmadinata (2004: 71) bahwa tujuan yang jelas dan manfaat yang betul-betul dirasakan oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar. Wiliam James (1998: 2) mengungkapkan bahwa penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran yang terdiri dari penyampaian materi yang akan dipelajari dan kegiatan apa saja yang dapat dilakukan siswa dapat memotivasi siswa untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Slavin juga mengungkapkan (2009: 127) bahwa guru dapat memotivasi siswa dalam belajar dengan cara menjelaskan manfaat materi pelajaran untuk kehidupan sehari-hari. Karwadi (2004: 46) menambahkan bahwa guru dapat menyampaikan arti penting materi pelajaran yang akan dipelajari siswa pada saat memberikan apersepsi untuk memotivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
2)        Memilih materi atau bahan pelajaran yang betul-betul dibutuhkan oleh siswa
Materi atau bahan pelajaran yang betul-betul dibutuhkan oleh siswa akan lebih bermakna. Nantinya, materi itu tidak hanya diingat atau dihafalkan saja, melainkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari siswa, namun umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya. Hal itu menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran cenderung mengabaikan perbedaan individual. (Dimyati Zuhdi dan Mudjiono, 2006: 49).
3)        Memilih cara penyajian yang bervariasi, sesuai dengan kemampuan siswa dan banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan berpartisipasi.
Cara penyajian materi yang bervariasi akan menarik perhatian siswa dan dapat mengatasi perbedaan individual siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Dimyati Zuhdi dan Mudjiono (2006: 49-50) mengungkapkan bahwa pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara, antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Slameto (2003: 92) menambahkan bahwa variasi metode mengakibatkan penyajian pelajaran lebih menarik perhatian siswa, mudah diterima siswa, dan kelas menjadi hidup, sehingga setiap siswa akan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
4)        Memberikan sasaran dan kegiatan-kegiatan antara Sasaran akhir dari kegiatan belajar siswa adalah lulus ujian akhir.
Menempuh ujian akhir bagi siswa yang baru masuk merupakan kegiatan yang masih terlalu lama, oleh karena itu perlu diciptakan sasaran dan kegiatan antara, seperti: ujian semester, ujian tengah semester, atau ulangan harian. Adanya ulangan-ulangan itu akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.
5)        Berikan kesempatan kepada siswa untuk sukses
Sukses yang dicapai oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar, sebaliknya kegagalan yang beruntun dapat menghilangkan motivasi. Guru hendaknya menyiapkan dan menyampaikan pelajaran, memberikan tugas dan latihan, bimbingan dsb., disesuaikan dengan kemampuan dan tahap perkembangan siswa (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004: 214). Lebih lanjut, Munawir Yusuf (2005: 125) mengungkapkan bahwa anak yang mengalami kesulitan belajar dan berada di kelas reguler akan sering gagal karena sulitnya bahan pelajaran dan tugas-tugas. Oleh karena itu, hendaknya tugas dan latihan yang diberikan itu pun lebih sederhana atau lebih mudah, supaya siswa dapat merasakan kesuksesan.
Mengenai kesuksesan siswa dalam belajar, ada perbedaan pendapat dari para ahli. Nana Syaodih Sukmadinata (2004: 71) mengungkapkan bahwa “sukses yang dicapai oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar, sebaliknya kegagalan yang beruntun dapat menghilangkan motivasi.” Pendapat yang hampir sama diungkapkan oleh Yulinda Erma Suryani (2010: 37) bahwa kegagalan berulang dapat mengurangi minat untuk belajar dan umumnya merendahkan motivasi belajar. Lain halnya dengan Munawir Yusuf (2005: 25) yang mengungkapkan bahwa “kegagalan selain dapat memotivasi anak untuk bangkit, sekaligus juga dapat menjadi pengalaman berharga yang mengajarkannya untuk menyelesaikan sendiri masalahmasalahnya yang berhubungan dengan kegagalan tersebut.”.
6)        Berikanlah kemudahan dan bantuan dalam belajar
Guru hendaknya memberikan kemudahan dan bantuan kepada siswa apabila siswa mengalami kesulitan atau hambatan dalam belajar, baik langsung oleh guru, maupun memberi petunjuk kepada siapa atau ke mana meminta bantuan (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004: 71). Sugihartono, dkk. (2007: 86) mengungkapkan bahwa “guru hendaknya dapat memberikan bimbingan kepada anak didiknya dalam menghadapi tantangan maupun kesulitan belajar.”
7)        Berikanlah pujian, ganjaran, atau hadiah Guru dapat memotivasi siswa melalui pemberin pujian, ganjaran, atau hadiah.
Meskipun demikian, guru tidak boleh berlebihan dalam memberikan hal-hal itu, melainkan sesuai dengan usaha siswa dalam belajar (Nana Syaodih, 2004: 72). Lebih lanjut, Gage dan Berliner (Slameto, 2003: 177) mengungkapkan bahwa kata-kata seperti bagus, baik, pekerjaan yang baik, yang diucapkan segera setelah siswa melakukan tingkah laku yang diinginkan atau mendekati tingkah laku yang diinginkan merupakan pembangkit motivasi yang besar.
8)        Penghargaan terhadap pribadi anak
Nana Syaodih Sukmadinata (2004: 214) mengungkapkan bahwa pemahaman saja sesungguhnya belum cukup, sebab belum berbuat apa-apa. Guru hendaknya menyiapkan dan menyampaikan pelajaran, memberikan tugas dan latihan, bimbingan dsb., disesuaikan dengan kemampuan dan tahap perkembangan siswa Guru pun perlu memberikan penghargaan terhadap pribadi siswa. Penghargaan itu dapat diwujudkan dengan sikap menerima siswa sebagaimana adanya, menghargai pribadi siswa, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba sesuai dengan jalur pikirannya sendiri. Hal itu adalah bentuk usaha pembangkitan motiv harga diri (self esteem) (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004: 71).
Ketiga pendapat di atas mempunyai kemiripan tentang berbagai usaha yang dilakukan oleh guru. Peneliti menyimpulkan bahwa upaya guru dalam membelajarkan siswa meliputi: (1) menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran, (2) menyampaikan materi yang benarbenar dibutuhkan siswa. (3) menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan siswa, (4) menggunakan media pembelajaran yang menarik, (5) mengadakan ulangan/kegiatan antara, (6) memberikan kesempatan kepada siswa untuk sukses, (7) memberikan bimbingan/kemudahan, (8) memberikan pujian atau hadiah, (9) memberikan hukuman, (10), memberikan nilai, (11) menyampaikan hasil, (12) pemahaman pribadi anak, dan (13) menjalin kerja sama dengan orang tua.
Peneliti menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar. Jika dilihat dari sumbernya, faktor yang bersifat intrinsik, yaitu: (1) adanya kebutuhan untuk belajar, (2) adanya cita-cita, (3) adanyan dorongan ingin tahu, (4) adanya kemampuan membaca, dan (5) kondisi siswa. Sementara itu, faktor yang bersifat ekstrinsik, yaitu: (1) pujian, (2) hukuman, (3) hadiah, (4) persaingan atau kompetisi, (5) kondisi lingkungan, (6) unsur-unsur dinamis dalam belajar, dan (7) upaya guru dalam membelajarkan siswa

BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
4.      Kebutuhan untuk menguasai ilmu mempengaruhi motivasi belajar slow learner yang diwujudkan dalam tindakan, berupa: rajin mengikuti pelajaran, mau memperhatikan penjelasan guru dan mengerjakan tugas, serta rajin belajar di rumah.
5.      Cita-cita subjek penelitian, yaitu menjadi anak yang pintar, naik kelas, lulus sekolah, dan menjadi pemain sepak bola mempengaruhi motivasi belajarnya.
6.      Kemampuan membaca yang dimiliki subjek penelitian mempengaruhi motivasi belajarnya. Hal itu disebabkan kemampuan membaca yang dimiliki subjek penelitian masih rendah, sehingga memacunya untuk giat belajar.
7.      Lingkungan sekolah menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, ruang kelas yang nyaman, situasi yang kondusif, program bimbingan belajar, dan ekstrakurikuler yang menampung minat dan bakat siswa, sehingga mempengaruhi motivasi belajar subjek penelitian.
8.      Pergaulan teman sebaya di kelas juga mempengaruhi motivasi belajar subjek penelitian. Hal itu disebabkan pergaulan teman sebaya yang kurang diterima, dihargai dan tidak mendapatkan ejekan dari teman-temannya lagi.
9.      Lingkungan keluarga/rumah tidak mempengaruhi motivasi belajar subjek penelitian. Hal itu dapat dibuktikan dari kebiasaan Upin yang rajin belajar di rumah meskipun orang tua tidak memberikan fasilitas belajar yang lengkap, tidak menciptakan situasi kondusif, tidak membimbingnya belajar, tidak memberikan pujian, hadiah, atau hukuman, serta anggota keluarga yang tidak memiliki kebiasaan belajar.
10.  Upaya guru dalam membelajarkan siswa mampu mempengaruhi motivasi belajar subjek penelitian. Upaya yang dilakukan guru, meliputi: menyampaikan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa pada umumnya, menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan siswa, menggunakan media pembelajaran yang menarik, mengadakan ulangan, memberikan kesempatan sukses yang kecil, memberikan bantuan atau bimbingan, memberikan hukuman, serta memberikan dan menyampaikan nilai atas tugas yang telah dikerjakan siswa. Beberapa hal yang belum diupayakan guru di antaranya: belum menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran, jarang memberikan penguatan, belum bekerja sama dengan orang tua dalam menangani masalah yang dialami slow learner.

B.       Saran
Berdasarkan simpulan di atas, peneliti memberikan saran kepada slow learner, guru, dan orang tua slow learner sebagai berikut.
1.         Slow Learner
Slow learner hendaknya tetap berusaha mengembangkan bakat dalam bermain bola untuk meraih cita-cita menjadi pemain sepak bola.
2.         Guru
a.         Guru hendaknya menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran kepada siswa di setiap awal pembelajaran agar siswa lebih termotivasi untuk belajar.
b.        Guru hendaknya memberikan penguatan berupa pujian atau hadiah untuk memotivasi siswa dalam belajar.
c.         Guru hendaknya memberikan kesempatan sukses yang lebih besar bagi slow learner dengan menurunkan tingkat kesulitan tugas-tugas yang diberikan.
d.        Guru kelas hendaknya membuat buku penghubung sebagai media komunikasi dengan orang tua untuk menyampaikan perkembangan belajar siswa, baik slow learner maupun siswa lainnya.
3.         Orang tua
Orang tua hendaknya menjalin kerja sama dengan guru atau pihak sekolah dalam menangani slow learner dengan aktif bertanya atau memberikan informasi tentang perkembangan belajar anak.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Abdorrakhman Gintings. (2008). Esensi Praktis: Belajar dan Pembelajaran Disiapkan untuk
Pendidikan Profesi dan Sertifikasi Guru-Dosen. Bandung: Humaniora.
Ahmed Al-Ghamdi. (2014). The Role of Motivation as A Single Factor in Second Language
Learning. Arecls ( Vol.11, 2014, 1-14). Hlm. 2.
Ana Lisdiana. (2012). Prinsip Pengembangan Atensi pada Anak lamban Belajar: Modul
Materi Pokok Program Diklat Kompetensi Pengembangan Fungsi Kognisi pada Anak
Lamban Belajar bagi Guru di Sekolah Inklusi Jenjang Lanjut. Bandung: Kemendikbud.
Arief Sardiman, dkk. (2009). Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan
Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali Pers.
Aunurrahman. (2010). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Azhar Arsyad. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. (2010). Teori Belajar & Pembelajaran. Jogjakarta: Ar
Ruzz Media.
Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Endang Rochyadi dan Zaenal Alimin. (2005). Pengembangan Program Pembelajaran
Individual bagi Anak Tunagrahita. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti.
Erman Amti dan Marjohan. (1991). Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud Dirjen
Dikti.
Eveline Siregar dan Hartini Nara. (2011). Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia
Indonesia.
Hamzah B. Uno. (2010). Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang Pendidikan.

No comments:

Post a Comment